Selasa, 28 Oktober 2014

MAKALAH FILSAFAT BAHASA

BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG

Allah SWT berfirman, ’’ Sesungguhnya Kami telah ciptakan manusia dalam bentuknya yang paling sempurna’’ (QS.Attin :4). Kesempurnaan fisik itu diimbangi oleh kemampuan untuk mengalami makna. Mengalami, dimaknai sebagai melihat pola-pola dari fenomena yang teramati.
 Pola-pola itu dijadikan panduan (baca : ilmu) sehingga perilakunya di masa depan lebih bermakna bagi dirinya. Phoenix (1964) menurunkan enam kategori makna yang muncul dari analisi pemahaman terhadap fenomena itu, yaitu symbolic, empirics, esthetics,synnoetics, ethics, dan synoptic. Yang termasuk dalam kategori simbolik adalah bahasa biasa, matematika, dan sejumlah bentuk simbolik non-diskursif seperti isyarat, ritual, pola-pola ritmik dan sebagainya. Makna dengan demikian terkandung dalam pola-pola simbolik yang tersepakati dan ditransformasi lewat konvensi. Makna simbolik ini merupakan yang paling mendasar dan diperlukan untuk memahami lima kategori makna lainnya. Jadi, wajarlah bila filsafat bahasa memiliki peran istimewa untuk memahami filsafat-filsafat lainnya. Bahasa biasa adalah bahasa sehari-hari baik lisan maupun tulis, yang tidak mencakup bahasa eksklusif seperti bahasa khusus untuk dunia inteligen yang penuh sandi atau bahasa khusus untuk bidang profesi atau spesialis tertentu.

B.        RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana  asal-usul bahasa?
2.    Apa pengertian filsafat dan bahasa?
3.    Bagaimana meraba pikiran filsafat melalui bahasa?
4.    Bagaimana menguasai bahasa?
BAB II
PEMBAHASAN

A.         SPEKULASI ASAL-USUL BAHASA
Orang mulai menanyakan asal mula bahasa ketika ada persoalan mengenai hubungan antara kata dan makna, tanda dan yang ditandaI, hakikat makna, dan perbedaan makna kata yang mengakibatkan kesalahpahaman. Para ahli lebih memberikan perhatian pada bentuk bahasa, ragam bahasa, perubahan bahasa, wujud bahasa, struktur bahasa, fungsi bahasa, pengaruh bahasa, perencanaan bahasa, pengajaran bahasa, perolehan bahasa, evaluasi dan sebagainya daripada melacak sejarah kelahirannya. Padahal dengan mengetahui sejarah kelahirannya akan dapat diperoleh pemahaman yang utuh tentang bahasa.
Sebenarnya studi tentang bahasa, termasuk tentang asal usul bahasa atau glottogony sudah lama dilakukan para ilmuwan, seperti sosiolog, psikolog, antropolog, filsuf, bahkan teolog. Tetapi karena pusat perhatian para ilmuwan tersebut berbeda-beda, maka tidak diperoleh pengetahuan yang memadai tentang asal usul bahasa. Belakangan para ahli komunikasi juga menjadikan bahasa sebagai pusat kajian. Secara mikro, lahir ilmu seperti fonologi, morfologi, sintak, semantik, gramatika, semiotika dan sebagainya. Tidak berlebihan jika seorang filsuf hermeneutika kenamaan Gadamer mengatakan bahwa bahasa adalah pusat memahami dan pemahaman manusia. Sebab, melalui bahasa akan diketahui pola pikir, sistematika berpikir, kekayaan gagasan, kecerdasan, dan kondisi psikologis seseorang.
Alih-alih menyimpulkan kapan bahasa pertama kali digunakan manusia, para ahli bahasa justru sepakat bahwa tidak seorang pun mengetahui secara persis kapan bahasa awal mula ada, di mana, bagaimana membuatnya dan siapa yang mengawalinya. Ungkapan yang lazim mengatakan bahwa sejarah bahasa dimulai sejak awal keberadaan manusia. Dengan demikian, sejarah bahasa berlangsung sepanjang sejarah manusia. Ada sedikit informasi dari para peneliti sejarah bahasa yang menyimpulkan bahwa bahasa muncul pertama kali kurang lebih 3000 SM. Inipun dianggap kesimpulan yang spekulatif dan tanpa bukti yang kuat.
Akibat hasil studi tentang asal usul bahasa dianggap tidak pernah memuaskan, maka menurut Alwasilah (1990: 1) pada 1866 masyarakat Linguistik Perancis pernah melarang mendiskusikan asal usul bahasa karena hasilnya tidak pernah jelas dan hanya buang-buang waktu saja. Namun demikian, terdapat beberapa teori tentang asal usul bahasa, di antaranya bersifat tradisional dan mistis. Misalnya, ada yang beranggapan bahwa bahasa adalah hadiah para dewa yang diwariskan secara turun temurun kepada manusia, sebuah ungkapan yang sulit diterima kebenarannya secara ilmiah dan nalar logis. Namun menurut Pei (1971: 12) pada kongres linguistik di Turki tahun 1934 muncul pendapat yang menyatakan bahwa bahasa Turki adalah akar dari semua bahasa dunia karena semua kata dalam semua bahasa berasal dari giines, kata Turki yang berarti “matahari”, sebuah planet yang pertama kali menarik perhatian manusia dan menuntut nama. Kendati kebenarannya masih dipertanyakan banyak kalangan, pendapat tersebut tidak berlebihan. Sebab, dari sisi penggunanya bahasa Turki dipakai tidak saja oleh orang Turki, tetapi juga oleh masyarakat di negara-negara bekas Uni Soviet, seperti Tajikistan, Ubekistan, Armenia, Ukraina, dan sebagainya.
Sebuah hipotesis tentang teori bahasa yang didukung oleh Darwin (1809-1882) menyatakan bahwa bahasa hakikatnya lisan dan terjadi secara evolusi, yakni berawal dari pantomime-mulut di mana alat-alat suara seperti lidah, pita suara, larink, hidung, vocal cord dan sebagainya secara reflek berusaha meniru gerakan-gerakan tangan dan menimbulkan suara. Masih menurut Darwin kualitas bahasa manusia dibanding dengan suara binatang hanya berbeda dalam tingkatannya saja. Artinya, perbedaan antara bahasa manusia dan suara binatang itu sangat tipis, sampai-sampai ada sebagian yang berpendapat bahwa binatang juga berbahasa. Bahasa manusia seperti halnya manusia sendiri yang berasal dari bentuk yang sangat primitif berawal dari bentuk ekspresi emosi saja.
Nenek moyang kita jutaan tahun lalu berbahasa dengan kosa kata dan tata bahasa yang sangat terbatas. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, sistem lambang ini pun berkembang hingga akhirnya lahir bahasa tulis. Lewat bahasa tulis, peradaban manusia berkembang menjadi demikian pesat. Dengan demikian, bahasa terbentuk dan berkembang secara evolutif
Berbeda dengan aliran-aliran primitif tersebut di atas, para filsuf Yunani kuno, seperti Pythagoras, Plato, dan kaum Stoika berpendapat bahwa bahasa muncul karena “keharusan batin” atau karena “hukum alam”. Disebut “keharusan batin”, karena bahasa hakikatnya adalah perwujudan atau ekspresi dunia batin penggunanya. Pendapat yang cukup masuk akal dan menjadi dasar pemahaman orang tentang makna bahasa sampai saat ini muncul dari filsuf seperti Demokritus, Aristoteles, dan kaum Epikureja yang mengatakan bahwa bahasa adalah hasil persetujuan dan perjanjian antar-anggota masyarakat. Sebab, sifat dasar manusia adalah keinginannya berinteraksi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Sayangnya, teori ini berhenti sampai di sini.
Kendati teori tentang asal mula bahasa masih kabur dan demikian beragam, dari yang bersifat mitos, religius, mistis sampai yang ke ilmiah, menurut Hidayat (1996: 29) secara garis besar terdapat tiga perspektif teoretik mengenai asal usul bahasa, yakni teologik, naturalis, dan konvensional. Aliran teologik umumnya menyatakan bahwa kemampuan berbahasa manusia merupakan anugerah Tuhan untuk membedakannya dengan makhluk ciptaanNya yang lain. Dalam al Qur’an (2: 31) Allah dengan tegas memerintahkan Adam untuk memberi nama benda-benda (tidak menghitung benda). Para penganut aliran ini berpendapat kemampuan Adam untuk memberi nama benda disebut tidak saja sebagai peristiwa linguistik pertama kali dalam sejarah manusia, tetapi juga sebuah peristiwa sosial yang membedakan manusia dengan semua makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Tentu saja pendapat ini bersifat dogmatis dan karenanya tidak perlu dilakukan kajian secara ilmiah dan serius tentang asal usul bahasa. Kehadiran bahasa diterima begitu saja, sama dengan kehadiran manusia yang tidak perlu dipertentangkan. Karena bersifat teologik, maka aliran ini terkait dengan keimanan seseorang. Sisi positif aliran ini adalah kebenarannya bersifat mutlak dan karenanya tidak perlu diperdebatkan karena berasal dari Allah. Tetapi sisi negatifnya ialah aliran ini menjadikan ilmu pengetahuan tentang bahasa tidak berkembang. Sebab, tidak lagi ada kajian atau penelitian tentang asal usul bahasa
B.    BAHASA DAN FILSAFAT
1.    DEFINISI BAHASA DAN FILSAFAT
Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. Lain halnya menurut Owen dalam Stiawan (2006:1), menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
Pendapat di atas mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan (1989:4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer.
Menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. Mackey (1986:12), Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter). Wibowo (2001:3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.Walija (1996:4), mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain.
Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin (1986:2), beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.
Sementara Pengabean (1981:5), berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf. Pendapat terakhir tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono (1983:01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.
Sedangkan Filsafat, jika dilihat dari ilmu asal-usul kata (etimologi), istilah filsafat diambil dari kata falasafah yang berasal dari bahasa Arab. Istilah ini diadopsi dari bahasa Yunani, yaitu dari kata “philosophia”. Kata philosophia terdiri dari kata philein yang berarti cinta (love), dan Sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom). Dengan demikian, secara etimologis filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan (love of wisdom) secara mendalam. Dari sini terdapat ungkapan yang menyatakan bahwa filosof (filsuf, failasuf) adalah seorang yang sangat cinta akan kebijaksanaan secara mendalam. Dan kata filsafat pertama kali digunakan oleh phytagoras (582-496 m). selanjutnya berikut ini beberapa penjelasan mengenai filsafat menurut para ahli yaitu bahasa:
a.    Plato, filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
b.    Aristoteles, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika,
c.    Al-Farabi, filasafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam amaujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
d.    Rene Descartes,filsafat adalah sekumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
e.    Immanuel Kant, filasafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan, yang didalamnya mencakup masalah epistemology mengenai segala sesuatu yang kita ketahui.
f.     Langeveld, filasafat adalah berpikir tentang masalah-malasah yaitu tentang makna keadaan, Tuhan, keabadian, dan kebebasan.
g.    Hasbullah Bakri, filasafat adala ilmu yang menyelidiki tentang segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia.
h.    Driyarka, filasafat adalah pemerenungan terhadap sebab-sebab “ada” dan berbuat tentang kenyataan (reality) sampai pada akhir.
i.      Notonegoro, filsafat adalah hal-hal yang menjadi objek dari sudut intinya yang mutlak dan yang terdalam.
j.      Ir. Poedjawijatna, filasafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
k.    Muhsyanur Syahrir, filsafat adalah ilmu yang selalu mencari yang hakiki baik masalah ketuhanan, realita yang dialami baik dari subjek yaitu manusia maupun dari objeknya yaitu alam.

2.    Esensi Bahasa di tinjau dari segi Filsafat
a.      Bidang-bidang khusus yang dikaji dalam filsafat bahasa
1)     Filsafat Analitik
Filsafat analitik atau filsafat linguistik atau filsafat bahasa, penggunaan istilahnya tergantung pada preferensi filusuf yang bersangkutan. Namun pada umumnya kita dapat menjelaskan pendekatan ini sebagai suatu yang menganggap analisis bahasa sebagai tugas mendasar filusuf.
Akar-akar analisis linguistik ditanam di lahan yang disiangi oleh seorang matematikawan bernama Gottlob Frege. Frege memulai sebuah revolusi logika (analitik), yang implikasinya masih dalam proses penanganan oleh filsuf-filsuf kontemporer. Ia menganggap bahwa logika sebetulnya bisa direduksi kedalam matematika, dan yakin bahwa bukti-bukti harus selalu dikemukakan dalam bentuk langkah-langkah deduktif yang diungkapkan dengan jelas.
2)     Filsafat Sintetik
Tekanan yang berlebihan pada logika analitik dalam filsafat, seperti yang telah kita amati, sering menimbulkan pandangan yang mengabaikan semua mitos dalam pencarian sistem ilmiah. Sejauh mana filsuf-filsuf membolehkan cara pikir mitologis untuk memainkan peran dalam berfilsafat barangkali sebanding dengan sejauh mana mereka mengakui berapa bentuk logika sintetik sebagi komplemen sebagai analitik yang sah. Contoh: yesus mengalami hubungan antara bapak da putra, sehingga ia mgajari pengikut-pengikutnya agar berdo’a kepada bapak mereka yang di surga.
3)     Filsafat Hermeneutik
Aliran utama filsafat ketiga pada abad kedua puluh meminjam namanya, dengan alasan yang baik, mengingat sifat mitologis ini. Sebgaiman tugas Heymes ialah mengungkapkan makna tersembunyi dari dewa-dewa ke manusia-manusia, filsafat hermeneutik pun berusaha memahami persoalan paling dasar dalam kajian ilmu tentang logika atau filsafat bahasa: bagaimana pemahaman itu sendiri mengambil tempat bilamana kita menafsirkan pesan-pesan ucapan atau tulisan. Filsafat hermeneutic memilik akar yang dalam di kebudayaan barat. Bahkan, Aristoteles sendiri menulis buku berjudul peri hermeneias (tentang interpretasi), walau ini lebih berkenan dengan pertanyaan-pertanyaan dasar logika daripada dengan persoalan yang saat ini kita kaitkan dengan hermeneutika.
Karya pertama yang berusaha secara praktis obyektif menata prinsip-prinsip penafsiran semacam itu adalah introduction to the correct interpretation of reasonable discourses and book (1742), karya Johann Chladenius (1710-1759). Dengan menetapkan hermeneutika sebagai seni pemorelahan pemahaman pembicaraan secara lengkap (entah ucapan entah tulisan).
3.    Hubungan bahasa dan pengetahuan bahasa
Relasi antara hubungan bahasa dan pengetahuan bahasa dapat dikatakan sebagai hubungan kausalitas. Dan di dalam perkembangannya, bahasa sudah dijadikan obyek menarik bagi perenungan, pembahasan dan penelitian dunia filsafat. Selai bahasa mempunyai daya tarik tersendiri, ia juga memiliki kelemahan sehubungan dengan fungsi dan perannya yang begitu luas dan kompleks, seperti ia tidak bisa mengetahui dirinya secara tuntas dan sempurna, sehingga filsafatlah yag memberikan pengetahuan pada dirinya.
a.  Filsafat dapat dikaji melalui tiga aspek yaitu, epistemology, antologi dan aksiologi.
1)     Epsitemologi (asal mula) adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan dipercaya. Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Secara umum bahasa  dapat difenisikan sebagai lambang. Pengertian lain dari bahasa adalah alat komunikasi yang berupa sistem lambang yang dihasilkan oleh alat ucap pada manusia Seperangkat aturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yang disebut Tata bahasa.
Untuk selanjutnya yang berhubungan dengan tata bahasa akan dibahas lebih detail lagi yaitu tentang fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan etimologi. Pengertian dari Fonologi ialah bagian tata bahasa yang membahas atau mempelajari bunyi bahasa. Morfologi mempelajari proses pembentukan kata secara gramatikal beserta unsur-unsur dan bentuk-bentuk kata. Sintaksis membicarakan komponen-komponen kalimat dan proses pembentukannya. Bidang ilmu bahasa yang secara khusus menganalisis arti atau makna kata ialah semantik, sedang yang membahas asal-usul bentuk kata adalah etimologi.
b.     Ontologikal (Objek atau sasaran) membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya.
c.      Rizal Mustansyir menyebutkan bahwa objek material filsafat bahasa adalah kefilsafatan atau bahasa yang dipergunakan dalam filsafat. Sedangkan objek formal filsafat bahasa menurutnya, ialah pandangan filsafati atau tinjauan secara filsafati.
d.     Semantikal / Aksiologi (nilai dan fungsi) meliputi nilai nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau ke¬nyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Salah satu aspek penting dari bahasa ialah aspek fungsi bahasa. Secara umum fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi, bahkan dapat dipandang sebagai fungsi utama bahasa.
4.    Ciri-ciri bahasa universal
a.    Bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vocal dan konsonan. Misalnya, bahasa Indonesia mempunyai 6 vokal dan 22 konsonan, bahasa arab mempunyai tiga vocal pendek dan tiga vocal panjang serta 28 konsonan (Al-Khuli 1982;321); bahasa Inggris memiliki 16 buah vocal dan 24 konsonan (Al-Khuli 1982: 320).
b.    Bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah kata, frase, kalimat dan wacana.

5.    Para ahli bahasa dan pandangannya terhadap bahasa
a.    Ferdinand De Saussure sangat menekankan bahwa tanda-tanda bahasa secara bersama membentuk system; bahwa langue, dengan kata lain berwatak sistematik dan structural. Dengan pandangan terhadap sistematika bahasa ini de Saussure telah menjalankan pengaruh yang dahsyat.
b.    Noam Chomsky berpendapat suatu bahasa yang hidup ditandai oleh kreativitas yang dituntut oleh aturan-aturan. Aturan-aturan tata bahasa nyata bertalian dengan tingkah laku kejiwaan, manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat belajar bahasa. Bahasa yang hidup adalah bahasa yang dapat dipakai dalam berpikir.
c.    Benyamin Lee dan Sapir hipotesis yang diusungnya adalah struktur bahasa suatu budaya menentukan apa yang orang pikirkan dan lakukan. Dapat dibayangkan bagaimana seseorang menyesuaikan dirinya dengan realitas tanpa menggunakan bahasa, dan bahwa bahasa hanya semata-mata digunakan untuk mengatasi persoalan komunikasi atau refleksi tertentu. Hipotesis ini menunjukkan bahwa proses berpikir kita dan cara kita memandang dunia dibentuk oleh struktur gramatika dari bahasa yang kita gunakan.

6.    Hubungan Bahasa dengan Filsafat
Bahasa tidak saja sebagai alat komunikasi untuk mengantarkan proses hubungan antarmanusia, tetapi, bahasa pun mampu mengubah seluruh kehidupan manusia. Artinya, bahwa bahasa merupakan aspek terpenting dari kehidupan manusia. Kearifan Melayu mengatakan : “Bahasa adalah cermin budaya bangsa, hilang budaya maka hilang bangsa”. Jadi bahasa adalah sine qua non, suatu yang mesti ada bagi kebudayaan dan masyarakat manusia.
Bagaimanapun alat paling utama dari filsafat adalah bahasa. Tanpa bahasa, seorang filosof (ahli filsafat) tidak mungkin bisa mengungkapkan perenungan kefilsafatannya kepada orang lain. Tanpa bantuan bahasa, seseorang tidak akan mengerti tentang buah pikiran kefilsafatan.
Louis O. Katsooff  berpendapat bahwa suatu system filsafat sebenarnya dalam arti tertentu dapat dipandang sebagai suatu bahasa, dan perenungan kefilsafatan dapat dipandang sebagai suatu upaya penyusunan bahasa tersebut.  Berdasarkan hal tersebut filsafat dan bahasa senantiasa akan beriringan, tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal ini karena bahasa pada hakikatnya merupakan sistem symbol-simbol. Sedangkan tugas filsafat yang utama adalah mencari jawab dan makna dari seluruh symbol yang menampakkan diri di alam semesta ini. Bahasa juga adalah alat untuk membongkar seluruh rahasia symbol-simbol tersebut.
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa bahasa dan filsafat memiliki hubungan atau relasi yang sangat erat, dan sekaligus merupakan hukum kausalitas (sebab musabbab dan akibat) yang tidak dapat ditolak kehadirannya. Sebab itulah seorang filosof (ahli filsafat), baik secara langsung maupun tidak, akan senantiasa menjadikan bahasa sebagai sahabat akrabnya yang tidak akan terpisahkan oleh siapa pun dan dalam kondisi bagaimanapun. Bahasa memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan objek penelitian filsafat, ia juga memiliki kelemahan-kelemahan tertentu sehubungan dengan fungsi dan perannya yang begitu luas dan kompleks. Salah satu kelemahannya yaitu tidak mengetahui dirinya secara tuntas dan sempurna, sebagaimana mata tidak dapat melihat dirinya sendiri.
Realitas semacam itulah, barangkali yang mendorong para filosof dari tradisi realisme di Inggris mengalihkan orientasi kajian kefilsafatannya pada analisis bahasa seperti yang telah dilakukan oleh George More (1873-1958), Bertrand Russel (1872-1970), Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Alfref Ayer (1910- ), dan yang lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya, kelompok ini sering dikelompokkan sebagai aliran baru dalam filsafat, yaitu aliran filsafat analisis bahasa atau filsafat analitis.
7.    Fungsi Filsafat terhadap Bahasa
Kita pada maklum bahwa kerja filsafat adalah dimulai dari suatu peranyataan kritis tentang sesuatu realitas yang tidak hanya mempertanyakan tentang dunia yang konkrit, tetapi juga sebagian realitas yang oleh sebagian orang dianggap tabu untuk dipertanyakan. Bagi filsafat seluruh realitas adalah layak untuk dipertanyakan. Bagi filsafat pertanyaan itu bukanlah sekedar bertanya, tapi diharapkan berupa pertanyaan yang kritis tentang apa saja.
“Filsafat harus mengkritik pertanyaan-pertanyaan yang tidak mamadai dan harus ikut mencari jawaban yang benar”, kata Franz Magnis-Suseno. Atau seperti kata Robert Spaemann : ”Yang baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban”. Itu sudah menjadi pertanyaan para filosof tempo dulu, dari Socrates sampai Ibnu Rusd dari Andalusia
Berikut ini akan dikemukakan beberapa masalah kebahasaan yang memerlukan analisis atau kerja filsafat dalam memahami dan memecahkannnya, antara lain :
a.     Masalah “bahasa’ pertama dan mendasar adalah apa hakikat bahasa itu ? mengapa bahasa itu harus ada pada manusia dan merupakan cirri utama manusia. Apa pula hakikat manusia itu, dan bagaimana hubungan antara “bahasa” dan “manusia” itu.
b.     Apakah perbedaan utama antara “bahasa” manusia dan bahasa di luar manusia, seperti bahasa binatang dan atau bahasa makhluk lain. Apa persamaannya dan apa pula perbedaannya.
c.      Apa hubungan antara bahasa dan akal, dan juga apa hubungannya antara bahasa dengan hati, intuisi dan fenomena batin manusia lainnya.
Problem-problem tersebut, merupakan sebagian dari contoh-contoh problematika kebahasaan, yang dalam pemecahannya memerlukan usaha-usaha pemikiran yang dalam dan sistematis atau analisis filsafat.
Agar ada sedikit gambaran, berikut ini akan diuraikan secara singkat mengenai hubungan fungsional antara bahasa dan filsafat. Diantaranya adalah sebagai berikut :
a.    Filsafat, dalam arti analisis merupakan salah satu metode yang digunakan oleh para filosof dan ahli filsafat dalam memecahkan , seperti mengenai apakah hakikat bahasa itu, atau pernyataan dan ungkapan bahasa yang bagaimana yang dapat dikategorikan ungkapan bahasa bermakna dan tidak bermakna.
b.    Filsafat, dalam arti pandangan atau aliran tertentu terhadap suatu realitas, misalnya filsafat idealism, rasionalisme, realism, filsafat analitif, Neo-Posotovisme, strukturalisme, posmodernisme, dan sebagainya, akan mewarnai pula pandangan para ahli bahasa dalam mengembangkan teori-teorinya. Aliran filsafat tertentu akan mempengaruhi dan memberikan bentuk serta corak tertentu terhadap teori-teori kebahasaan yang telah dikembangkan para ahli ilmu bahasa atas dasar aliran filsafat tersebut. Sebut saja “Sausurian”, adalah suatu aliran linguistic dan ilmu sastra yang dikembangkan di atas bangunan filsafat strukturalisme Ferdinand de Saussure.
c.    Filsafat, juga berfungsi memberi arah agar teori kebahasaan yang telah dikembangkan para ahli ilmu bahasa, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, memiliki relevansi dan realitas kehidupan ummat manusia.
d.    Filsafat, termasuk juga filsafat bahasa, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori kebahasan menjadi ilmu bahasa (linguistic) atau ilmu sastra. Suatu teori kebahasaan yang dikembangkan oleh suatu aliran filsafat tertentu, akan menghasilkan forma aliran ilmu bahasa tertentu pula. Hal ini akan sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu kebahasaan secara berkelanjutan.

C.     MERABA PIKIRAN FILSAFAT
Bahasa biasa secara akdemik dikaji oleh linguistic, fiologi dan antropologi dengan fokus perhatian masing-masing yang berbeda. Tugas filsafat bahasa adalah antara lain menjelaskan hakikat ‘’mengetahui’’ bahasa dan menjelaskan berbagai metode dan konsep demi suksesnya penguasaan bhasa. Mengapa ada filsafat bahasa, bukankah sudah ada linguistic yang mempelajari bahasa secara ilmiah. Dua cabang linguistik, yaitu fonologi sudah jelas mempelajari bunyi, sintaksis mempelajari struktur gramatika bahasa dan kajiannya relative mantap. Chomsky dengan tegas membedakan sintaksi dari semantik. Dia mengajukan tesis autonomous syntax,bahwasanya sintaksis mesti dipelajari secara terpisah dari semantik. Sementara itu, dalam semantik (ilmu makna) banyak ditemukan persoalan yang sulit dipecahkan. Disinilah filsafat mesti tampil membantu linguistic yang mati langkah. Filsafat bahasa hampir mutlak berurusan dengan makna sedikit dengan pola kalimat, dan tidak mengutak-atik bunyi bahasa. Pentingnya mempelajari (filsafat) bahasa karena bahasa memiliki keterbatasan. Seorang filsuf pasti memiliki pemikiran jauh lebih luas dari apa yang dikatakannnya lewat bahasa. Seringkali tidak mudah bagi kita untuk meraba artinya. Memang berfilsafat adalah berpikir radikal, yakni sampai keakar-akarnya. Sebagai suatu tulisan, filsafat bersifat tekstual. Satuan maknanya bukan kata maupun kalimat, tetapi kumpulan semuanya sebagai teks yang maknanya ditentukan oleh keterkaitannya dengan teks-teks lainnya. Filsafat pun tampil selalu ambisius untuk memayungi persoalan seluas mungkin. Agar tampil singkat tapi menjangkau banyak hal, maka diperlukan metafora. Ada beberapa makna ungkapan dari para filsuf terkenal para pentolan eksistensialisme berikut ini.

1.  Jean-Paul Sartre (1905-1980)
‘’Existentialism is not so atheistic that it wears it self out showing that Goddoes not exist.Rather, it declares that even if God did exist, that would change nothing.’’ (Eksistensialisme itu tidaklah sedemikian atheistic sehingga mengarahkan segala-galanya untuk menunjukkan bahwa Tuhan tidak ada. Namun, eksistensialisme menyatakan bahwa, meskipun Tuhan tidak ada, tidak aka nada yang berubah karenanya).

‘’Man is nothing else but his plan; he exists only to the extent that he fulfils himself; he is therefore nothing else that the ensemble of his acts, nothing else than his life. (‘’ manusia tiada lain adalah rencananya sendiri; ia mengada hanya sejauh ia memenuhi dirinya sendiri; oleh karenanya, ia tiada lain adalah kumpulan tindakannya, tiada lain ialah hidupnya sendiri).
‘’... I am responsible for myself and for everyone else. I am creating a certain image of man of my own choosing. In choosing myself, I choose man. ‘’(... saya bertanggungjawab baik diri sendiri maupun bagi setiap orang lain. Saya menciptakan gambaran tertentu tentang manusia atas dasar pilihan saya sendiri. Dalam memilih bagi diri sendiri, saya memilih bagi manusia).
‘’... the man who involves himself and who realizes that he is not only the person he chooses to be, but also a lawmaker who is, at the same time, choosing all mankind as well as himself, cannot help escape the feeling of his total and deep responsibility.’’ (... manusia yang melibatkan diri dan menyadari bukan saja sebagai pribadi yang diinginkan pilihannya, melainkan juga seorang pembuat hokum yang sekaligus memilih bagi seluruh kemanusiaan dan bagi dirinya sendiri, mustahil akan bias melepaskan rasa tanggungjawab yang dalam  dan menyeluruh.’’
‘’... man is a totality, not a collection. Consequently he express himself as a whole in even his most insignificant and is most superficial behaviour. In other words there is not revealing.’’(... manusia adalah suatu totalitas, bukan suatu koleksi. Konsekuensinya manusia menyatakan diri sebagai keseluruhan, bahkan dalaam tingkah lakunya yang tak berarti atau dangkal sekalipun. Dengan kata lain, tak ada suatu selera, gaya, atau tindakan manusia yang merupakan ungkapan.’’

2.       Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855)
‘’I felt the stillness of death grew around me when I saw in my father, an unhappy man who was to outlive us all, a cross on the tomb of all his hopes. There must be a guilt upon the whole family, the punishment of God must be on it; it was disappear, wiped out by the powerful hand of God... ‘’(Aku merasakan kesepian, maut tumbuh di sekitar diriku bilamana aku menyaksikan ayahku, seorang yang tak berbahagia dan akan hidup lebih lama dari kami semua, ibarat salib di atas nisan segala harapannya. Niscaya suatu kesalahan telah menjadi tanggungan seluruh keluarga, hukuman Tuhan pasti telah menjadi tanggungan seluruh keluarga, hukuman Tuhan pasti telah dijatuhkan kepadanya; rupanya keluarga kami harus musnah, dihapus dari muka bumi oleh tangan Tuhan yang perkasa.)

‘’.... Christ came through locked doors’’(Kristus tiba lewat pintu-pintu yang terkunci)


3.    Friedrich Wilhelm Nietzche (1844-1900)
‘’A high civilization is a pyramid; it can stand only upon a broadbase; its prerequisite is a strongly and soundly consolidated mediocrity’’(peradaban yang tinggi adalah ibarat piramida  : ia hanya bias bertahan atas suatu landasan yang luas; prasyarat ialah hal-hal tanggung yang dikonsolidasikan secara tangguh dan ampuh.)

‘’....will clash in a gigantic war for the markets of the world.’’(...akan bentrokan dalam suatu perang dahsyat demi memperebutkan pasaran-pasaran dunia.)

‘’ Could it be possible ? The old saint in the forest has not yet heard anything of this, that God is dead!’’ (Mungkinkah demikian? Orang alim di hutan tadi belum mendengar berita bahwa Tuhan sudah mati!)

‘’What is good ? ‘’you ask.’’ To be brave is a good.’’ (Apa yang baik?’’ kau bertanya. Berani itulah yang baik.’’)

‘’One repays a teacher badly if one always remains nothing but a pupil.’’ (Tak sempurnalah seseorang membalas jasa gurunya, bilamana ia terus-menerus bertahan sebagai muridnya saja.)

4.    Nicholas Alexandrovitch Berdyaev (1874-1948)
‘’There is a spiritual man, and there is a natural man, and yet the same individual is both spiritual and natural.’’ (Di satu pihak manusia adalah spiritual, sedangkan di lain pihak ia adalah alamiah, maka dari itu  individu itu sekaligus bersifat spiritual dan alamiah.)

‘’... the final goals of man’s life are not social, not spiritual,’’(..tujuan final hidup manusia bukanlah social sifatnya, melainkan spiritual.)

‘’it is man that makes history,...and that it is to be supposed that he makes history for his own sake.’’(...adalah manusia yang membuat sejarah,...dan ini seharusnya dianggap bahwa manusia membuat sejarah untuk kepentingannnya sendiri.)

5.    Karl Jaspers (1910-1969)
‘’What is essential in the concrete decisions of personal fate remains hidden,’’(Apa yang esensial dalam keputusan konkret yang menyangkut nasib pribadi tetap akan tersembunyi.)

‘’All being must be objectified for us in such forms, it becomes phenomenon for us, it is for us as we know it, and not as it is in itself. Being is neither the object that confronts us,... nor is it subject.’’ (Segala sesuatu yang ada harus kita objektifikasikan berupa bentuk-bentuk, kita jadikan fenomena bagi kita, adanya sebagaimana kita ketahui, dan tidak sebagaimana adanya pada sendirinya. Apa yang ada itu bukan objek dihadapan kita,.. bukan juga subjek).

‘’The God of faith is the distant God, the hidden God, the indemonstrable God. Hence I must recognize not only that I do not know God but even that I do not know whether I believe. (Tuhan yang diimani adalah Tuhan yang jauh. Tuhan yang tersembunyi, Tuhan yang tak bias diperagakan. Oleh karena itu, saya harus mengakui bahwa sebenarnya saya tak tahu akan Tuhan, bahkan tak tahu apakah saya percaya (terhadap-Nya).

‘’The more authentically free man is, the greater his certainly of God. When I am authentically free, I am certain that I am not free through myself.’’(makin sejati kebebasan seseorang, makin kuat kepastiannya tentang tuhan. Kalau saya bersungguh-sungguh bebas, saya menjadi pasti bahwa saya tidak bebas karena saya sendiri.)

‘’Life in nature must be deepend, not withered, by what technology can do.’’ (Hidup dalam ala mini harus diperdalam, bukan diberantakan, oleh apa yang  diperbuat oleh teknologi.)

‘’To be a man is to become a man.’’(Ada sebagai manusia adalah menjadi manusia.)

Untuk mempertajam pemahaman anda ihwal ungkapan-ungkapan filosofis di atas. Kutipan di atas merujuk pada panduan berikut ini.

1.    Menurut Derrida tulisan itu adalah yang pertama dan bukannya bahasa lisan.
2.    Filsafat itu bersifat ambisius. Apakah ayat-ayat filosofis di atas juga ambisius.
3.    Filsafat mereduksi segala persoalan kedalam suatu sistem metafora.
4.    Ungkapan linguistik bias dimengerti bila pada dirinya sendiri tidak ada paradox.
5.    Tiap ungkapan bahasa dapat dianggap sebagai tindakan politis untuk mendominasi tindakan bahasa yang lainnya.
6.    Menurut Phoenix penguasaan bahasa bergantung pada empat kata kunci: penggunaan,  simbol, makna, dan komunikasi. Bagaimana penguasaaan bahassa para filssuf lewat kata-katanya.
7.    Bagaimana pendapat anda ihwal retorika kutipan di atas? Secara fonologis, morfologis, dan sintaksis.
8.    Bagi segelintir pembaca, Kutipan di atas bias dianggap kurang komunikatif atau membingungkan. Maengapa Demikian ?
9.    Dapatkah anda bandingkan proses kreatif sebuah puisi dengan proses kreatif ayat-ayat filosofis seperti di atas?
10. Bagaimanaka memaknai ayat-ayat filosofis seperti di atas agar dipahami dan bermanfaat bagi masyarakat luas?

D.    MENGUASAI BAHASA
Dalam pemakaian sehari-hari, menguasai bahasa sering diartikan sebagai mampu berbicara dalam bahasa itu. Secara lebih serius ini diartikan sebagai kemampuan menggunakan simbol secara bermakna untuk berkomunikasi. Jadi, dalam kontekss ini penguassaan bahasa bergantung pada empat kata kunci: penggunaan, simbol, makna, dan komunikasi(Phenix:19640. Berikut adalah rincian keempat unsur tersebut.
1.    Indikator penguasaan bahasa adalah penggunaannya dalam bicara dan menulis. Bila seseorang fasih melafalkan kosakata dan menyebutkan aturan tata bahasa, tetapi ia tidak bias menyusun kata-kata dalam wacana lisan dan tulis dalam bahasa itu, maka ia tidak menguasai bahasa itu. Bahasa adalah perilaku manusia, Jadi, pengajaran bahassa sesungguhnya ‘’mengubah’’ perilaku manusia. Jadi dalam belajar bahasa perlu diciptakan suasana yang memaksa siswa berbicara dan menulis dalam bahasa itu.
2.    Nurani terdalam yang ada pada manusia adalah keinginan dirinya diakui dan dimengerti oleh anggota masyarakat lain lewat komunikasi dengan bahasa masyarakat itu. Sebuah peribahasa Prancis mengatakan bahwa ‘’Mengerti berarti memaafkan segaalanya.’’ Bahasalah yang mengikat kuat dan mempertahankan maintance berfungsi memperkokoh suatu masyarakat. Jadi, cara yang paling baik mempelajari bahasa adalah dengan membiarkan siswa larut dalam komunikasi dengan bahasa dalam masyarakat penuturnya (speech community).
3.     Perilaku berbahasa (language behaviour) dan masyarakat ujar (speech community) adalah kulit terluar dari bahasa. Bagian terdalamnya adalah makna. Salah satu ciri kehebatan manusia adalah potenssi kodrati (innate capacity) untuk mengalami dan memaknai makna itu. Ujaran bukanlah berondongan bunyi ujaran sepertimetraliur tetaapi kilatan-kilatan makna yang mesti ditangkap. Jadi, kemampuan menangkap makna saat mendengarkan dan membaca, dan kemampuan membuat makna saat berbicara dan menulis. Belajar bahassa bukan meniru ujaran seperti burung beo. Belajar bahasa adalah belajar memaknai melalui refleksi.
4.    Makna-isi bahasa itu ditampilkan atau direpresentasi oleh simbol ekspresi yang juga kulit luar dari bahasa. Simbol ini bersifat fisikal yakni terdengar atau tertulis sebagai representasi signifikansi intelektual. Simbol-simbol itu berwujud sebagai kosakata(vocabulary), sementara itu bagaimana kosakata digabung dengan kosakata lainnya diatur oleh struktur bahasa. Simbol-simbol itu adalah abstraksi dari objek yang dipikirkan. Menguassai bahassa dengan demikian adalah menguasai struktur simbol yang karena memiliki struktur, maka kemunculannya dapat diprediksi. Daya prediktif inilah yang membekali manusia untuk dapat merencanakan masa depan. Berpikir adalah mekanisme kognitif yang menghasilkan pengetahuan. Simbolisasi makna lewat struktur itu tidak alamiah tetapi dikonstruksi oleh budaya. Konstruk budaya(cultural construct) ini terbukti dengan adanya perbedaan struktur internal linguistik antara bahasa dalam mengekspresikan makna.

E.           Teori bahasa dan metode Ilmiah
Sudah dibahas bahwa manusia memaknai alam semesta dengan kemampuan bahasa. Eriksom seperti di kutip Hoover ( 1980 ) membedakan tiga jenis konsep : factuality, reality, dan actuality.
1.      Fakta, realita dan aktualita
Faktuality, atau fakta adalah konsep yang paling akrab berkait dengan kegiatan dan metedologi saintifik, yaitu semesta fakta-fakta, data dan tekhnik-tekhnik yang dapat di verifikasi dengan metode observasi. Fakta jangan dikacaukan dengan kebenaran, sebab benar salah bukan urusan epistimologi. Tugas ilmu adalah mencari metode secanggih mungkin agar mampu merevisi, memodifikasi, dan membatalkan (falsifikasi) fakta- fakta dan membatalkan teori yang sudah diverivikasi oleh alat yang belum canggih, masih kasar, atau kurang sensitif untuk menangkap gejala- gejala yang belum termaknai. Reality atau realita adalah urutan kedua setelah fakta dalam memahami hubungan manusia dengan semesta ini. Realitas kurang konkret dibanding fakta, tetapi lebih sederhana bagi intuisi kita. Ia adalah perspektif kita terhadap sebuah fakta. Apa pun canggihnya metode yang ditempuh, tidak mungkin bagi kita untuk memotret fakta secara utuh. Kita meneliti sesuatu didorong motivasi yang berbeda sesuai dengan minat kitawajar bila sebuah objek diteliti oleh beberapa peneliti, karena masing- masing punya minat yang berbeda. Jaddi metodologi yang ditempuh sesungguhnya upaya untuk menggali bukti- bukti untuk membentuk pandangan kita ihwal realitas. Membaca asil penelitian orang sesungguhnya bukan sekadar membaca data, tetapi membaca perspektif peneliti ihwal realitas sebagaimana tercermin lewat data. Actuality atau aktualita adalah pengetahuan yang diperoleh lewat tindakan. Ia lebih membantu kita bagaimana kita bertindak atas atas apa yang kita ketahui. Manusia katanya lebih cenderung berorientasi pada akssi dari refleksi. Ilmuan sosial yang terbaik adalah yang mereka yang basah kuyup karena muncul-tenggelam dalam fenomena sosial yang sedang ditelitinya. Ketika kita berbicara bahasa sebagai objek kajian linguistik secara ilmiah, sepatutnya anda bertanya apakah Anda merujuk pada fakta, realita, atau aktualitas?
2.     Peran teori
Yang dimaksud dengan metode saintifik lazimnya merujuk pada langkah- langkah sistematik sebagai berikut:
a.      Identifikasi variabel yang diteliti
b.      Pengajuan hipotesis yang menghubungkan satu variabel dengan variabel lain atau situasi lain.
c.      Mengetes realitas, yaakni dengan mengukur hubungan hipotesis dengan hasil yang diperoleh.
d.      Melakukan evaluasi dimana hubungan yang telah terukur itu dibandingkan dengan hipotesis awal, lalu dimunculkan sebuah generasi.
e.      Mengajukan sran ihwal makna ( signifikansi) teoritis dari temuan, faktor- faktor yang terlibat  dengan pengetesan yang mungkin menyebabkan distorsi temuan, dan sejumlah hipotesis lain yang berkembang.

Langkah- langkah di atas itu gambaran pendekatan konvesional dalam melakukan penelitian. Hal ini tidak berlaku bagi pendekatan naturalistik karena berangkat dari asumsi filosofis yang berbeda. Sains sering disebut tidak lebih dari sekedar reality testing, yakni mengetes realitas. Semua orang terbiasa dengan realitas, dan para ilmuwan memperkenalkan teori untuk memahami realitas ini. Teori adalah seperangkat proposisi yang saling terkait yang menerangkan mengapa kejadian begitu adanya. Teori ada berserakan dimana- mana, hanya saja tidak terlihat tanpa kacamata metodologi ilmiaa, dari hal kecil seperti teori relativitas dari Esntein teori- teori besar adalah yang berkaitan dengan pertanyaan sekitar agamaa dan filosofis, ihwal asal mula keberadaan alam semesta, sejarah spesies, tujuan hidup, norma perilaku yang mengarahkan kepada kebijakan dan mungkin kebahagian. Bagi ilmu- ilmu sosial teori lazim terlihat dari perspektif pragmatisme, sebuah teori disebut baik jika dilihat dari kegunaannya untuk menjelaskan fenomena yang diamati. Tujuan ilmu pengetahuan adalah menghasilkan teori untuk menjelaskan fenomena yang diobservasi. Teori bukanlah batu karang yang tak terdobrak kuasa ombak. Teori adalah kreasi manusia untuk menjelaskan pemahaman ihwal fenomena. Ada empat fungsi teori sebagai berikut (Hoover 1980:39).
a.         Teori menyajikan pola- pola untuk memaknai data.
b.         Teori menghubungka satu studi dengan studi lainnya
c.         Teori menyajikan berbagai kerangka yang memayungi konsep dan variabel untuk memperoleh makna yang spesifik
d.         Teori memungkin kita menginterprestasi makna yang besar dari temuan penelitian kita yang bermakna kita mampu bagi orang lain.

3.    Teori bahasa
Perluka teori? Ya, mutlak perlu, karena pengetahuan dasar dan kemampuan kita untuk memahami alam semesta ini terbatas. Menelititanpa teori bagai memancing tanpa kail. Kita meneliti alam ini secuil- secuil saja. Jadi yang diperlukan adalah teori yang releven dan sudah dirumuskan oleh peneliti terdahulu ihwal yang secuil itu. Jadi bagaimana dengan teori bahasa? Sebagai teori, maka teori bahasa sama saja dengan teori fenomena lain, katakanlah teori grafitasi bumi. Teori haruslah empirik dan spekulatif. Teori bahasa layknya teori ihwal alam juga. Persepsi kita terhadap teori bahwa bumi memiliki daya geavitasi seyogianya sama dengan persepsi kita terhadap teori bahwa kalimat memiliki daya simbolik. Dalam perbincangan sering kali kita harus membedakan theory dari folk theory atau folk opinion , yakni pemahaman yang tidak kritis, tidak sistematis, tidak metodologis dan sering diwariskan begitu saja dari generasi ke generasi. Dalam ilmu bahasa pun ada dikenal folk linguistic, yakni deskripsi atau kepercayaaan orang awan ihwal bahasa yang tidak berdasarkan penelitian. Pengetahuan berkembang bermula dari folk theory yang dikritik habis- habisan sehingga menjadi teori saintifik. Misalnya sering dikatakan bahwa bahasa Perancis adalah bahasa yang paling romantis, bahasa inggris adalah adalah bahasa yang cocok untuk membahas ilmu pengetahuan, dan bahasa arab adalah bahasa pertama yang muncul di muka bumi dan merupakan bahasanya Nabi adam. Percayakah anda?

a.     Teori Chomsky
Bagi Chomsky adalah cermin minda. Dengan studi bahasa yang mendetil kita mungkin dapat mengungkap bagimana minda manusia memproduksi dan mengeloh bahasa. Sutudi bahasa bertujuan mengembangkan (1) teori bahasa, (2) teori pemerolehan bahasa, secara logis, tugas (1) mendahului tugas, (2). Teori bahasa yang memadai seyogianya mampu menjawab pertanyaan berikut ini: apakah bahasa itu? Apa artinya bahwa seseorang mengetahui bahasa? Apa ciri pembeda utama bahasa alamai dibandingkan dengan bahasa bahasa buatan seperti yang digunakan dalam matematika dan media lainnya? Dengan mempelajari secara serius bahasa Inggris atau bahasa apa saja ditemukan particular grammar yang darinya dapat diabstraksi universal grammar. Berikut ini bebrapa ayat teori grammar yang diajukan oleh Chomsky:
1)         Gramatika adalah sebua model (deskripsi sistematik) dari segala kemampuan linguistik seorang penutur sejati sebuah bahasa yeng memungkin dirinya berbicara dan memahami bahasanya dengan fasih.
2)         Gramatika bahasa adalah sebuah model dari kompetensi linguistik dari seorang penutur sejati yang fasih. Kompetensi adalah pengetahuan seorang penutur dan pendengar sejati ihwal bahasanya, sedangkan performansi adalah pemakaian bahasa secara aktual (actual use) dalam suasana konkret.
3)         Linguistik bagi Chomsky adalah terutama berkaitan dengan kompetensi yang terdiri atas dua jenis kompetensi pragmatik adan kompetensi gramatikal. Yang disebut pertama ini berurusan dengan informasi non-linguistik seperti pengetahuan latar kepercayaan perorangan dalam menginterprestai kalimat.
4)         Kompetensi gramatikal memayungi tiga kompetensi yaitu kompetensi sintaktik, semantik, dan fonologis. Grammar tata bahasa terdiri atas komponen yang saling berkaitan, yaitu komponen sintaksis, semantik, dan fonologis.
5)         Dengan intuisi yang dimilikinya, seorang penutur sejati dapat memberikan penilaian (judgment) apakah sebuah ujaran itu gramatikal dalam bahasanya.
6)         Teori linguistik terutama berurusan dengan bahasa penutur pendengar yang ideal dalam sebuah masyarakat ujaran betul- betul homogen.Kreativitas berbahasa menunjukkan bahwa bahasaa tidak sekadar pembelajaran daftar kalimat yang dihasilkaan penutur sejati dan mengulanginya seperti burung beo. Kebaruan kalimat yang dibuat itu menunjukkan perlawanan teori aliran behaviorisme bahwa belajar bahasa adalah pemerolehan seperangkat kibiasaan (linguistic habits).
Ada tiga urutan atau tingkat kehebatan teori bahasa, yaitu yang memnuhi observational adequacy, descriptive adequacy, dan explanatory adequacy. Masing- masing itu dijelaskan kriterianya dalam tiga kutipan sebagai berikut ( lihat Radford 1981:25-26).
1)           A grammar of a languange is abservationally adequate if it correctly predicts which sentences are (and are not syntactically), semantically and phonologically well-fermed in the languange.
2)           A grammar of a languange is decriptively adequate if it correctly predicts which sentence are (and are not syntactically, semantically and phonologically well-formed in the language, and also correctly describes the syntactic, semantic and phonological structure of the sentences in the language in such a way as provide a principled account of the native speaker’s intuition about this structure.
3)           A grammar attains explanatory adequacy just in case it correctly predicts which sentences are and are not well- formed in the language, correctly describes their structure, and also does so in terms of a highly restricted set of optimally simple, universal, maximally general principles which represent psychologically plausible, and are ‘ learnable’ by the child in a limited period of time, and given access to limited data.
Jadi teori yang paling tinggi derajatnya adalah yang memenuhi explanatory adequacy. Untuk itu gramatika haruslah nyata secara psikologis (psychologically real); juga dibatasi secara maksimal (maximally constrained). Berikut adalah penjelasan ihwal kutipan di atas
1)    Persyaratan observational aadequacy merupakan persyaratan yang paling mudah dipenuhi, yakni asalkan dapat menyatakan secara benar kalimat- kalimat yang apaik dalam tiga tataran fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Misalnya bahwa kalimat berikut ini tidak (well-formed), dan penutur sejati bahasa Inggris- juga Anda yang menguasainya- dengan mudah dapat menjelaskan mengapa demikian.
a)        John’s a living dead man
b)        My wife is not my wife
c)        This is a five-sided hexagon
d)        Colorless green ideas sleep furiously
e)        I eat much cereal for breakfast
2)    Persyaratan descriptive adequacy selain memenuhi persyaratan observational adequacy di atas, juga mampu mengungkapkan struktur fonologis, morfologis, sintaktik, dan semantik suatu kalimat sedemikian rupa sehingga gambaran itu mencerminkan intuisi penutur sejati. Misalnya kemampuan menjelaskan fenomenan bahasa dalam kalimat The shooting of the hunter is terrible. Penutur sejati memiliki intuisi bahwa yang mengerikan itu bisa penembakan oleh pemburu atau penembakan kepada pemburu
3)    Persyaratan explanatory adequacy selain memenuhi persyaratan descriptive adequacy dan persyaratan observational adequacy harus sahih secara universal dan terkendala secara maksimal (maximally constrained) sehingga mampu menjawab pertanyaa: (a) mengapa aturan tatabahasa natural memiliki atauran demikian, dan (b) apa hakikat suatu bahasa natural yang membedakannya dari bahasa lain seperti bahasa binatang?
Tampak dari batasan di atas bahwa problem dalam penguassaan bahassa sesungguhnya problem menguasai makna. Karena bahasa sebagai alat berpikir manusia, maka problemnya adalah juga problem minda(mind). Diharapkan bahwa studi dan teori bahasa akan menjelaskan hakikat minda. Dan demikian juga sebaliknya. Teori tentang bahasa adalah abstraksi para ahli bahasa sebagai hasil pengamatan terhaadap gejala bahasa. Dengan jalan pemikiran ini, Ilmu bahasa tunduk kepada sejumlah asumsi tentang objek empiris (bahasa) sebagai berikut.
a.    Keragaman
Beberapa fenomena memiliki keragaman dalam sifat, struktur, bentuk dan sebagainya. Keragaman ini menghasilkan klasifikasi yang sangat mendasar bagi ilmu pengetahuan untuk melahirkan taksonomi. Dari taksonomi para ilmuwan membanding-bandingkan objek studi sehingga muncul komparasi. Pendekatan kuantitatif pun tidak mungkin tanpa taksonomi yang baik. Dan dari komparassi dan taksonomi para ilmuwan dapat melakukan prediksi. Klarifikasi tradisional kelas kata kedalam nomina, pronominal, verba, adjektiva, proposisi, konjungsi, dan interjeksi ditempuh berdasarkan keragaman anggota-anggota yang masuk dalam masing-masing kelas kata itu. Demikian juga konsep universal dalam teori linguistik adalah bukti kuatnya asumsi keragaman ini, Ada dua jeniss universal dalam bahasa, yaitu universal absolute dan universal relative dengan rincian sebagai berikut. Universal adalah ayat-ayat universal yang tidak memiliki kekecualian. Universal relative adalah universal tendencies, yakni kecenderungan universal, yakni memiliki kekecualian. Sebagai contoh : bahasa menghindari center-embedding, karena memprosesnya jauh lebih sulit ketimbang memproses left-peripheral relative clause atau right-peripheral relative clause. Coba simaklah betapa sulitnya memproses kalimat ini: The man [that the boy [that the dog [ that the cat [that the mouse hated]scratched]bit]kicked]ran away. Berikut adalah beberapa contoh universal bahasa:
1.  Urutan kata : S, V, O: Dalam kalimat deklaratif dengan subjek objek nomina, urutan yang dominan adalah hampir selalu pola S mendahului O.
2.  Sintaksis : Dalam kalimat-kalimat kondisional, klausa kondisional mendahului konklusi sebaagai urutan normal dalam hampir segala bahasa.
3.  Morfologi : Bila bahasa memiliki infleksi, bahasa itu selau memiliki derivasi.




b.    Kelestarian Relatif
‘’Segala sesuatu berubah kecuali Dzat pencipta.’’ Demikianlah, fenomena alam termasuk bahasa berubah-ubah dengan tingkatan yang berbeda. Benda-benda angkasa berubah atau berevolusi jauh lebih lama daripada perubahan es menjadi air dalam gelas minuman. Ilmu pengetahuan mencari hukum- hukum dari objek yang relatif lestari sehingga dapat dijadikan pegangan. Sulitlah keilmuan akan tegak bila objek studinya berubah setiap saat. Struktur bahasa relatif lestari sehingga kita dapat mempelajarinya. sintaksis lebih lestari daripada kosakata. Struktur lebih dapat diprediksi daripada makna. Karena itu sintaksis lebih objektif daripada semantik. Setiap bahasa mengenal fenomena bahasa gaul atau slang, yang sangat musiman dan berubah dari waktu ke waktu, dari pengguna ke pengguna. Berbeda denga fenomena universal bahsa seprti di sebut di atas.bahasa berubah dengan perubahan yang bertingkat, karena itu dalam ilmu bahasa di kenal sejumlah fenomena seperti Lexical change,semantic change, dan language reconstruction.
c.    Sebab – akibat
Dalam  Al-Quran di firmankan, “ sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada ( keadaan ) sesuatu kaum              ( masyarakat ), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri ( sikap mental ) mereka.” (QS.Al-Raad: 11). Diterminisme mengatakan bahwa sebuah fenomena bukanlah kejadian asal jdadi dengan sendirinya. Ada keteraturan sehingga ada keterkaitan sababiyah atau sebab akibat, X menyebabkan Y. Walau begitu, dalam ilmu pengetahuan tidak tidak harus selalu ditemukan X akan selalu menyebabkan Y. Bisa saja dikatakan X lazimnya ( memiliki peluang besar mengakibatkan ) munculnya Y. Contoh yang paling sederhana adalah perubahan kata kerja finit ( finite verb ) dalam jumlah persona disebabkan oleh karakteristik yang melekat pada subjek. Sebab – akibat ini mengokohkann hukum subject-verb agreement.



























BAB III
PENUTUP
A.        SIMPULAN

1.    Makna bahasa biasa (ordinary language) adalah bahasa sehari hari baik lisan maupun tulis, yang tidak mencakup bahasa eksklusif seperti bahasa khusus untuk dunia inteligen yang penuh sandi atau bahasa khusus untuk bidang profesi atau spesialis tertentu.
2.    Pentingnya teori bahasa dan filsafat bahasa, yaitu sebagai sarana analisis dalam memecahkan, memahami, dan menjelaskan konsep, problema, filsafat (bahasa sebagai subjek). Bahasa sebagai objek material filsafat sehingga filsafat bahasa membahas hakikat bahasa itu sendiri. (3) makna menguasai bahasa, yaitu symbolik, empiris, estetik, synnoetics, etis, dan synoptic dan (4) dasar-dasar teori bahasa, menurut Chomsky, gramatika, gramatika bahasa, linguistik, kompetensi gramatikal, intuisi, linguistik, kreativitas bahasa, dan kehebatan teori bahasa.
B.        SARAN
Diharapkan jika membuat makalah selanjutnya menggunakan referensi yang lebih variatif.









DAFTAR PUSTAKA

A.Chaedar Alwasilah. 2010. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ambary, Abdullah. 1986. Intisari Tata Bahasa Indonesia. Bandung: Djatnika.
Chomsky, Noam. 1977. Language and Responsibilities. New York: Panthem Books.

Comrie, B. 1989. Language Universals and Linguistic Typology: Syntax and Morphology. 2nd edition. Oxford: Basil Blackwell.

Dardjowidjojo, Soejono. 2003. “ Menuju ke Penelitian yang Ekplanatori.” Dalam Soekamto, ed. Rampai Bahasa, Pendidikan, dan Budaya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 330-339.

Devit, Michael & Kim Sterelny. 1987. Language & Reality: an introduction to the Philosophy of Language. Cambridge: The MIT Press.

Hasan, Fuad. 1973. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Jakarta: Pustaka Jaya.

Hoover, Kenneth R. 1980. The Elements of social Scientific Thinking. 2nd edition. New York: St. Martin’s Press.

Kaelan, M.S. 1998. Filsafat Bahasa: Masalag dan Perkembangannya. Yogyakarta: Paradigma.

Pangabean, Maruli. 1981. Bahasa Pengaruh dan Peranannya. Jakarta: Gramedia.

Phenix, Philip H. 1964. Realms Of Meaning: A Philosophy of the Curriculum for General Education. California: Ventura.

Radford, Anndrew. 1981. Transformational Syntax: A student’s guide to Chomsky’s Extended Standard Theory. Cambridge: Cambridge University Press.

S. Suriasumantri. Jujun.2007. Filsafat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer).Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Santoso, Kusno Budi.1990.Problematika Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.

Slametmuljana. Prof. Dr. 1982. Asal usul Bahasa dan Bahasa Nusantara Jakarta: Balai Pustaka.

Sugiarto, Bambang I. 1996. Postmoderisme: Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Sugono, Dendy. 2004. “ Perspektif Penelitian Linguistik di Indonesia.” Lingua:Jurnal Bahasa dan Sastra. Volume 5, No 2, 182-190.

Surajiyo,Drs.2007. Filasafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Suriasumantri, Jujun S. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu. Jakarta: Yayasan obor Indonesia.

Wibowo, Wahyu. 2001. Manajemen Bahasa. Jakarta: Gramedia. Ahmad Asep.2006. Filsafat Bahasa. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.