BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Allah SWT berfirman, ’’ Sesungguhnya Kami
telah ciptakan manusia dalam bentuknya yang paling sempurna’’ (QS.Attin :4).
Kesempurnaan fisik itu diimbangi oleh kemampuan untuk mengalami makna.
Mengalami, dimaknai sebagai melihat pola-pola dari fenomena yang teramati.
Pola-pola itu dijadikan panduan (baca : ilmu)
sehingga perilakunya di masa depan lebih bermakna bagi dirinya. Phoenix (1964)
menurunkan enam kategori makna yang muncul dari analisi pemahaman terhadap
fenomena itu, yaitu symbolic, empirics,
esthetics,synnoetics, ethics, dan synoptic.
Yang termasuk dalam kategori simbolik adalah bahasa biasa, matematika, dan
sejumlah bentuk simbolik non-diskursif seperti isyarat, ritual, pola-pola
ritmik dan sebagainya. Makna dengan demikian terkandung dalam pola-pola
simbolik yang tersepakati dan ditransformasi lewat konvensi. Makna simbolik ini
merupakan yang paling mendasar dan diperlukan untuk memahami lima kategori
makna lainnya. Jadi, wajarlah bila filsafat bahasa memiliki peran istimewa
untuk memahami filsafat-filsafat lainnya. Bahasa biasa adalah bahasa
sehari-hari baik lisan maupun tulis, yang tidak mencakup bahasa eksklusif
seperti bahasa khusus untuk dunia inteligen yang penuh sandi atau bahasa khusus
untuk bidang profesi atau spesialis tertentu.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana asal-usul
bahasa?
2. Apa pengertian filsafat dan bahasa?
3. Bagaimana meraba pikiran filsafat melalui bahasa?
4. Bagaimana menguasai bahasa?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SPEKULASI ASAL-USUL BAHASA
Orang mulai menanyakan asal mula bahasa ketika ada
persoalan mengenai hubungan antara kata dan makna, tanda dan yang ditandaI,
hakikat makna, dan perbedaan makna kata yang mengakibatkan kesalahpahaman. Para
ahli lebih memberikan perhatian pada bentuk bahasa, ragam bahasa, perubahan
bahasa, wujud bahasa, struktur bahasa, fungsi bahasa, pengaruh bahasa,
perencanaan bahasa, pengajaran bahasa, perolehan bahasa, evaluasi dan
sebagainya daripada melacak sejarah kelahirannya. Padahal dengan mengetahui
sejarah kelahirannya akan dapat diperoleh pemahaman yang utuh tentang bahasa.
Sebenarnya studi tentang bahasa, termasuk tentang
asal usul bahasa atau glottogony sudah lama dilakukan para ilmuwan, seperti
sosiolog, psikolog, antropolog, filsuf, bahkan teolog. Tetapi karena pusat perhatian
para ilmuwan tersebut berbeda-beda, maka tidak diperoleh pengetahuan yang
memadai tentang asal usul bahasa. Belakangan para ahli komunikasi juga
menjadikan bahasa sebagai pusat kajian. Secara mikro, lahir ilmu seperti
fonologi, morfologi, sintak, semantik, gramatika, semiotika dan sebagainya.
Tidak berlebihan jika seorang filsuf hermeneutika kenamaan Gadamer mengatakan
bahwa bahasa adalah pusat memahami dan pemahaman manusia. Sebab, melalui bahasa
akan diketahui pola pikir, sistematika berpikir, kekayaan gagasan, kecerdasan,
dan kondisi psikologis seseorang.
Alih-alih menyimpulkan kapan bahasa pertama kali
digunakan manusia, para ahli bahasa justru sepakat bahwa tidak seorang pun
mengetahui secara persis kapan bahasa awal mula ada, di mana, bagaimana
membuatnya dan siapa yang mengawalinya. Ungkapan yang lazim mengatakan bahwa
sejarah bahasa dimulai sejak awal keberadaan manusia. Dengan demikian, sejarah
bahasa berlangsung sepanjang sejarah manusia. Ada sedikit informasi dari para
peneliti sejarah bahasa yang menyimpulkan bahwa bahasa muncul pertama kali
kurang lebih 3000 SM. Inipun dianggap kesimpulan yang spekulatif dan tanpa
bukti yang kuat.
Akibat hasil studi tentang asal usul bahasa
dianggap tidak pernah memuaskan, maka menurut Alwasilah (1990: 1) pada 1866 masyarakat
Linguistik Perancis pernah melarang mendiskusikan asal usul bahasa karena
hasilnya tidak pernah jelas dan hanya buang-buang waktu saja. Namun demikian,
terdapat beberapa teori tentang asal usul bahasa, di antaranya bersifat tradisional
dan mistis. Misalnya, ada yang beranggapan bahwa bahasa adalah hadiah para dewa
yang diwariskan secara turun temurun kepada manusia, sebuah ungkapan yang sulit
diterima kebenarannya secara ilmiah dan nalar logis. Namun menurut Pei (1971:
12) pada kongres linguistik di Turki tahun 1934 muncul pendapat yang menyatakan
bahwa bahasa Turki adalah akar dari semua bahasa dunia karena semua kata dalam
semua bahasa berasal dari giines, kata Turki yang berarti “matahari”, sebuah
planet yang pertama kali menarik perhatian manusia dan menuntut nama. Kendati
kebenarannya masih dipertanyakan banyak kalangan, pendapat tersebut tidak
berlebihan. Sebab, dari sisi penggunanya bahasa Turki dipakai tidak saja oleh
orang Turki, tetapi juga oleh masyarakat di negara-negara bekas Uni Soviet,
seperti Tajikistan, Ubekistan, Armenia, Ukraina, dan sebagainya.
Sebuah hipotesis tentang teori bahasa yang didukung
oleh Darwin (1809-1882) menyatakan bahwa bahasa hakikatnya lisan dan terjadi
secara evolusi, yakni berawal dari pantomime-mulut di mana alat-alat suara
seperti lidah, pita suara, larink, hidung, vocal
cord dan sebagainya secara reflek berusaha meniru gerakan-gerakan tangan
dan menimbulkan suara. Masih menurut Darwin kualitas bahasa manusia dibanding
dengan suara binatang hanya berbeda dalam tingkatannya saja. Artinya, perbedaan
antara bahasa manusia dan suara binatang itu sangat tipis, sampai-sampai ada
sebagian yang berpendapat bahwa binatang juga berbahasa. Bahasa manusia seperti
halnya manusia sendiri yang berasal dari bentuk yang sangat primitif berawal
dari bentuk ekspresi emosi saja.
Nenek moyang kita jutaan tahun lalu berbahasa
dengan kosa kata dan tata bahasa yang sangat terbatas. Seiring dengan
perkembangan peradaban manusia, sistem lambang ini pun berkembang hingga
akhirnya lahir bahasa tulis. Lewat bahasa tulis, peradaban manusia berkembang
menjadi demikian pesat. Dengan demikian, bahasa terbentuk dan berkembang secara
evolutif
Berbeda dengan aliran-aliran primitif tersebut di
atas, para filsuf Yunani kuno, seperti Pythagoras, Plato, dan kaum Stoika
berpendapat bahwa bahasa muncul karena “keharusan batin” atau karena “hukum
alam”. Disebut “keharusan batin”, karena bahasa hakikatnya adalah perwujudan
atau ekspresi dunia batin penggunanya. Pendapat yang cukup masuk akal dan
menjadi dasar pemahaman orang tentang makna bahasa sampai saat ini muncul dari
filsuf seperti Demokritus, Aristoteles, dan kaum Epikureja yang mengatakan
bahwa bahasa adalah hasil persetujuan dan perjanjian antar-anggota masyarakat.
Sebab, sifat dasar manusia adalah keinginannya berinteraksi dengan orang lain
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Sayangnya, teori ini berhenti
sampai di sini.
Kendati teori tentang asal mula bahasa masih kabur
dan demikian beragam, dari yang bersifat mitos, religius, mistis sampai yang ke
ilmiah, menurut Hidayat (1996: 29) secara garis besar terdapat tiga perspektif
teoretik mengenai asal usul bahasa, yakni teologik, naturalis, dan
konvensional. Aliran teologik umumnya menyatakan bahwa kemampuan berbahasa manusia
merupakan anugerah Tuhan untuk membedakannya dengan makhluk ciptaanNya yang
lain. Dalam al Qur’an (2: 31) Allah dengan tegas memerintahkan Adam untuk
memberi nama benda-benda (tidak menghitung benda). Para penganut aliran ini
berpendapat kemampuan Adam untuk memberi nama benda disebut tidak saja sebagai
peristiwa linguistik pertama kali dalam sejarah manusia, tetapi juga sebuah
peristiwa sosial yang membedakan manusia dengan semua makhluk ciptaan Tuhan
yang lain. Tentu saja pendapat ini bersifat dogmatis dan karenanya tidak perlu
dilakukan kajian secara ilmiah dan serius tentang asal usul bahasa. Kehadiran
bahasa diterima begitu saja, sama dengan kehadiran manusia yang tidak perlu
dipertentangkan. Karena bersifat teologik, maka aliran ini terkait dengan keimanan
seseorang. Sisi positif aliran ini adalah kebenarannya bersifat mutlak dan
karenanya tidak perlu diperdebatkan karena berasal dari Allah. Tetapi sisi
negatifnya ialah aliran ini menjadikan ilmu pengetahuan tentang bahasa tidak
berkembang. Sebab, tidak lagi ada kajian atau penelitian tentang asal usul
bahasa
B. BAHASA DAN FILSAFAT
1.
DEFINISI BAHASA DAN FILSAFAT
Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1),
memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat
komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh
alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan
simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. Lain halnya menurut
Owen dalam Stiawan (2006:1), menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a socially shared
combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa
dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional
untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan
kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
Pendapat di atas mirip dengan apa yang diungkapkan
oleh Tarigan (1989:4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa
adalah suatu sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif.
Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol
arbitrer.
Menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian
bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. Mackey (1986:12),
Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter). Wibowo (2001:3), bahasa
adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh
alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat
berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan
pikiran.Walija (1996:4), mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang
paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan
pendapat kepada orang lain.
Pendapat lainnya tentang definisi bahasa
diungkapkan oleh Syamsuddin (1986:2), beliau memberi dua pengertian bahasa.
Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan,
keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan
dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik
maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas
dari budi kemanusiaan.
Sementara Pengabean (1981:5), berpendapat bahwa
bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi
pada sistem saraf. Pendapat terakhir tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono
(1983:01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting
dalam hidup bersama.
Sedangkan Filsafat, jika dilihat dari ilmu
asal-usul kata (etimologi), istilah filsafat diambil dari kata falasafah yang
berasal dari bahasa Arab. Istilah ini diadopsi dari bahasa Yunani, yaitu dari
kata “philosophia”. Kata philosophia terdiri dari kata philein yang berarti
cinta (love), dan Sophia yang berarti
kebijaksanaan (wisdom). Dengan
demikian, secara etimologis filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan (love of wisdom) secara mendalam. Dari
sini terdapat ungkapan yang menyatakan bahwa filosof (filsuf, failasuf) adalah
seorang yang sangat cinta akan kebijaksanaan secara mendalam. Dan kata filsafat
pertama kali digunakan oleh phytagoras (582-496 m). selanjutnya berikut ini
beberapa penjelasan mengenai filsafat menurut para ahli yaitu bahasa:
a.
Plato, filsafat adalah
pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
b.
Aristoteles, filsafat adalah ilmu
pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu
metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika,
c.
Al-Farabi, filasafat adalah ilmu
pengetahuan tentang alam amaujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
d.
Rene Descartes,filsafat adalah
sekumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok
penyelidikan.
e.
Immanuel Kant, filasafat adalah
ilmu pengetahuan yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan, yang
didalamnya mencakup masalah epistemology mengenai segala sesuatu yang kita
ketahui.
f.
Langeveld, filasafat adalah
berpikir tentang masalah-malasah yaitu tentang makna keadaan, Tuhan, keabadian,
dan kebebasan.
g.
Hasbullah Bakri, filasafat adala
ilmu yang menyelidiki tentang segala sesuatu dengan mendalam mengenai
ketuhanan, alam semesta dan manusia.
h.
Driyarka, filasafat adalah
pemerenungan terhadap sebab-sebab “ada” dan berbuat tentang kenyataan (reality)
sampai pada akhir.
i.
Notonegoro, filsafat adalah
hal-hal yang menjadi objek dari sudut intinya yang mutlak dan yang terdalam.
j.
Ir. Poedjawijatna, filasafat
adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala
sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
k.
Muhsyanur Syahrir, filsafat
adalah ilmu yang selalu mencari yang hakiki baik masalah ketuhanan, realita
yang dialami baik dari subjek yaitu manusia maupun dari objeknya yaitu alam.
2.
Esensi Bahasa di tinjau dari segi
Filsafat
a. Bidang-bidang khusus yang dikaji dalam filsafat bahasa
1)
Filsafat Analitik
Filsafat analitik atau filsafat
linguistik atau filsafat bahasa, penggunaan istilahnya tergantung pada
preferensi filusuf yang bersangkutan. Namun pada umumnya kita dapat menjelaskan
pendekatan ini sebagai suatu yang menganggap analisis bahasa sebagai tugas
mendasar filusuf.
Akar-akar analisis linguistik
ditanam di lahan yang disiangi oleh seorang matematikawan bernama Gottlob
Frege. Frege memulai sebuah revolusi logika (analitik), yang implikasinya masih
dalam proses penanganan oleh filsuf-filsuf kontemporer. Ia menganggap bahwa
logika sebetulnya bisa direduksi kedalam matematika, dan yakin bahwa
bukti-bukti harus selalu dikemukakan dalam bentuk langkah-langkah deduktif yang
diungkapkan dengan jelas.
2)
Filsafat Sintetik
Tekanan yang berlebihan pada
logika analitik dalam filsafat, seperti yang telah kita amati, sering
menimbulkan pandangan yang mengabaikan semua mitos dalam pencarian sistem
ilmiah. Sejauh mana filsuf-filsuf membolehkan cara pikir mitologis untuk
memainkan peran dalam berfilsafat barangkali sebanding dengan sejauh mana
mereka mengakui berapa bentuk logika sintetik sebagi komplemen sebagai analitik
yang sah. Contoh: yesus mengalami hubungan antara bapak da putra, sehingga ia
mgajari pengikut-pengikutnya agar berdo’a kepada bapak mereka yang di surga.
3)
Filsafat Hermeneutik
Aliran utama filsafat ketiga pada abad kedua puluh meminjam namanya, dengan
alasan yang baik, mengingat sifat mitologis ini. Sebgaiman tugas Heymes ialah
mengungkapkan makna tersembunyi dari dewa-dewa ke manusia-manusia, filsafat
hermeneutik pun berusaha memahami persoalan paling dasar dalam kajian ilmu
tentang logika atau filsafat bahasa: bagaimana pemahaman itu sendiri mengambil
tempat bilamana kita menafsirkan pesan-pesan ucapan atau tulisan. Filsafat hermeneutic memilik akar yang dalam di
kebudayaan barat. Bahkan, Aristoteles sendiri menulis buku berjudul peri
hermeneias (tentang interpretasi), walau ini lebih berkenan dengan
pertanyaan-pertanyaan dasar logika daripada dengan persoalan yang saat ini kita
kaitkan dengan hermeneutika.
Karya pertama yang berusaha secara praktis obyektif menata prinsip-prinsip
penafsiran semacam itu adalah introduction
to the correct interpretation of reasonable discourses and book (1742),
karya Johann Chladenius (1710-1759). Dengan menetapkan hermeneutika sebagai
seni pemorelahan pemahaman pembicaraan secara lengkap (entah ucapan entah
tulisan).
3.
Hubungan bahasa dan pengetahuan
bahasa
Relasi antara hubungan bahasa dan pengetahuan bahasa dapat dikatakan
sebagai hubungan kausalitas. Dan di dalam perkembangannya, bahasa sudah
dijadikan obyek menarik bagi perenungan, pembahasan dan penelitian dunia
filsafat. Selai bahasa mempunyai daya tarik tersendiri, ia juga memiliki
kelemahan sehubungan dengan fungsi dan perannya yang begitu luas dan kompleks,
seperti ia tidak bisa mengetahui dirinya secara tuntas dan sempurna, sehingga
filsafatlah yag memberikan pengetahuan pada dirinya.
a. Filsafat dapat dikaji melalui tiga aspek yaitu, epistemology, antologi dan
aksiologi.
1)
Epsitemologi (asal mula) adalah
pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan cabang filsafat yang
membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula
pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan
kebenaran pengetahuan (ilmiah). Pengetahuan merupakan daerah persinggungan
antara benar dan dipercaya. Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya
secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan
pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Secara umum bahasa dapat difenisikan sebagai lambang. Pengertian
lain dari bahasa adalah alat komunikasi yang berupa sistem lambang yang
dihasilkan oleh alat ucap pada manusia Seperangkat aturan yang mendasari
pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yang
disebut Tata bahasa.
Untuk selanjutnya yang
berhubungan dengan tata bahasa akan dibahas lebih detail lagi yaitu tentang
fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan etimologi. Pengertian dari
Fonologi ialah bagian tata bahasa yang membahas atau mempelajari bunyi bahasa.
Morfologi mempelajari proses pembentukan kata secara gramatikal beserta
unsur-unsur dan bentuk-bentuk kata. Sintaksis membicarakan komponen-komponen
kalimat dan proses pembentukannya. Bidang ilmu bahasa yang secara khusus
menganalisis arti atau makna kata ialah semantik, sedang yang membahas
asal-usul bentuk kata adalah etimologi.
b.
Ontologikal (Objek atau sasaran)
membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. Pemahaman
ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda
yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan
bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya.
c.
Rizal Mustansyir menyebutkan bahwa
objek material filsafat bahasa adalah kefilsafatan atau bahasa yang
dipergunakan dalam filsafat. Sedangkan objek formal filsafat bahasa menurutnya,
ialah pandangan filsafati atau tinjauan secara filsafati.
d.
Semantikal / Aksiologi (nilai dan
fungsi) meliputi nilai nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian
makna terhadap kebenaran atau ke¬nyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek
kehidupan. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan,
baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Salah satu
aspek penting dari bahasa ialah aspek fungsi bahasa. Secara umum fungsi bahasa
adalah sebagai alat komunikasi, bahkan dapat dipandang sebagai fungsi utama
bahasa.
4.
Ciri-ciri bahasa universal
a.
Bahasa itu mempunyai bunyi bahasa
yang terdiri dari vocal dan konsonan. Misalnya, bahasa Indonesia mempunyai 6
vokal dan 22 konsonan, bahasa arab mempunyai tiga vocal pendek dan tiga vocal
panjang serta 28 konsonan (Al-Khuli 1982;321); bahasa Inggris memiliki 16 buah
vocal dan 24 konsonan (Al-Khuli 1982: 320).
b.
Bahasa mempunyai satuan-satuan
bahasa yang bermakna, entah kata, frase, kalimat dan wacana.
5.
Para ahli bahasa dan pandangannya
terhadap bahasa
a.
Ferdinand De Saussure sangat
menekankan bahwa tanda-tanda bahasa secara bersama membentuk system; bahwa
langue, dengan kata lain berwatak sistematik dan structural. Dengan pandangan
terhadap sistematika bahasa ini de Saussure telah menjalankan pengaruh yang
dahsyat.
b.
Noam Chomsky berpendapat suatu
bahasa yang hidup ditandai oleh kreativitas yang dituntut oleh aturan-aturan.
Aturan-aturan tata bahasa nyata bertalian dengan tingkah laku kejiwaan, manusia
adalah satu-satunya makhluk yang dapat belajar bahasa. Bahasa yang hidup adalah
bahasa yang dapat dipakai dalam berpikir.
c.
Benyamin Lee dan Sapir hipotesis
yang diusungnya adalah struktur bahasa suatu budaya menentukan apa yang orang
pikirkan dan lakukan. Dapat dibayangkan bagaimana seseorang menyesuaikan
dirinya dengan realitas tanpa menggunakan bahasa, dan bahwa bahasa hanya
semata-mata digunakan untuk mengatasi persoalan komunikasi atau refleksi
tertentu. Hipotesis ini menunjukkan bahwa proses berpikir kita dan cara kita
memandang dunia dibentuk oleh struktur gramatika dari bahasa yang kita gunakan.
6.
Hubungan Bahasa dengan Filsafat
Bahasa tidak
saja sebagai alat komunikasi untuk mengantarkan proses hubungan antarmanusia,
tetapi, bahasa pun mampu mengubah seluruh kehidupan manusia. Artinya, bahwa
bahasa merupakan aspek terpenting dari kehidupan manusia. Kearifan Melayu
mengatakan : “Bahasa adalah cermin budaya bangsa, hilang budaya maka hilang
bangsa”. Jadi bahasa adalah sine qua non, suatu yang mesti ada bagi kebudayaan
dan masyarakat manusia.
Bagaimanapun
alat paling utama dari filsafat adalah bahasa. Tanpa bahasa, seorang filosof
(ahli filsafat) tidak mungkin bisa mengungkapkan perenungan kefilsafatannya
kepada orang lain. Tanpa bantuan bahasa, seseorang tidak akan mengerti tentang
buah pikiran kefilsafatan.
Louis O. Katsooff
berpendapat bahwa suatu system filsafat sebenarnya dalam arti tertentu
dapat dipandang sebagai suatu bahasa, dan perenungan kefilsafatan dapat
dipandang sebagai suatu upaya penyusunan bahasa tersebut. Berdasarkan hal tersebut filsafat dan bahasa
senantiasa akan beriringan, tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal ini
karena bahasa pada hakikatnya merupakan sistem symbol-simbol. Sedangkan tugas
filsafat yang utama adalah mencari jawab dan makna dari seluruh symbol yang
menampakkan diri di alam semesta ini. Bahasa juga adalah alat untuk membongkar
seluruh rahasia symbol-simbol tersebut.
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa bahasa dan
filsafat memiliki hubungan atau relasi yang sangat erat, dan sekaligus
merupakan hukum kausalitas (sebab musabbab dan akibat) yang tidak dapat ditolak
kehadirannya. Sebab itulah seorang filosof (ahli filsafat), baik secara
langsung maupun tidak, akan senantiasa menjadikan bahasa sebagai sahabat
akrabnya yang tidak akan terpisahkan oleh siapa pun dan dalam kondisi
bagaimanapun. Bahasa memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan objek
penelitian filsafat, ia juga memiliki kelemahan-kelemahan tertentu sehubungan
dengan fungsi dan perannya yang begitu luas dan kompleks. Salah satu
kelemahannya yaitu tidak mengetahui dirinya secara tuntas dan sempurna,
sebagaimana mata tidak dapat melihat dirinya sendiri.
Realitas semacam itulah, barangkali yang mendorong
para filosof dari tradisi realisme di Inggris mengalihkan orientasi kajian
kefilsafatannya pada analisis bahasa seperti yang telah dilakukan oleh George
More (1873-1958), Bertrand Russel (1872-1970), Ludwig Wittgenstein (1889-1951),
Alfref Ayer (1910- ), dan yang lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya,
kelompok ini sering dikelompokkan sebagai aliran baru dalam filsafat, yaitu
aliran filsafat analisis bahasa atau filsafat analitis.
7.
Fungsi Filsafat terhadap Bahasa
Kita pada maklum bahwa kerja filsafat adalah
dimulai dari suatu peranyataan kritis tentang sesuatu realitas yang tidak hanya
mempertanyakan tentang dunia yang konkrit, tetapi juga sebagian realitas yang
oleh sebagian orang dianggap tabu untuk dipertanyakan. Bagi filsafat seluruh
realitas adalah layak untuk dipertanyakan. Bagi filsafat pertanyaan itu
bukanlah sekedar bertanya, tapi diharapkan berupa pertanyaan yang kritis
tentang apa saja.
“Filsafat harus mengkritik pertanyaan-pertanyaan
yang tidak mamadai dan harus ikut mencari jawaban yang benar”, kata Franz
Magnis-Suseno. Atau seperti kata Robert Spaemann : ”Yang baik tidak dapat
terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban”. Itu sudah
menjadi pertanyaan para filosof tempo dulu, dari Socrates sampai Ibnu Rusd dari
Andalusia
Berikut ini akan dikemukakan beberapa masalah
kebahasaan yang memerlukan analisis atau kerja filsafat dalam memahami dan
memecahkannnya, antara lain :
a.
Masalah “bahasa’ pertama dan
mendasar adalah apa hakikat bahasa itu ? mengapa bahasa itu harus ada pada
manusia dan merupakan cirri utama manusia. Apa pula hakikat manusia itu, dan
bagaimana hubungan antara “bahasa” dan “manusia” itu.
b.
Apakah perbedaan utama antara
“bahasa” manusia dan bahasa di luar manusia, seperti bahasa binatang dan atau
bahasa makhluk lain. Apa persamaannya dan apa pula perbedaannya.
c.
Apa hubungan antara bahasa dan
akal, dan juga apa hubungannya antara bahasa dengan hati, intuisi dan fenomena
batin manusia lainnya.
Problem-problem tersebut, merupakan sebagian dari
contoh-contoh problematika kebahasaan, yang dalam pemecahannya memerlukan
usaha-usaha pemikiran yang dalam dan sistematis atau analisis filsafat.
Agar ada sedikit gambaran, berikut ini akan
diuraikan secara singkat mengenai hubungan fungsional antara bahasa dan
filsafat. Diantaranya adalah sebagai berikut :
a.
Filsafat, dalam arti analisis
merupakan salah satu metode yang digunakan oleh para filosof dan ahli filsafat
dalam memecahkan , seperti mengenai apakah hakikat bahasa itu, atau pernyataan
dan ungkapan bahasa yang bagaimana yang dapat dikategorikan ungkapan bahasa
bermakna dan tidak bermakna.
b.
Filsafat, dalam arti pandangan
atau aliran tertentu terhadap suatu realitas, misalnya filsafat idealism,
rasionalisme, realism, filsafat analitif, Neo-Posotovisme, strukturalisme,
posmodernisme, dan sebagainya, akan mewarnai pula pandangan para ahli bahasa
dalam mengembangkan teori-teorinya. Aliran filsafat tertentu akan mempengaruhi
dan memberikan bentuk serta corak tertentu terhadap teori-teori kebahasaan yang
telah dikembangkan para ahli ilmu bahasa atas dasar aliran filsafat tersebut.
Sebut saja “Sausurian”, adalah suatu aliran linguistic dan ilmu sastra yang
dikembangkan di atas bangunan filsafat strukturalisme Ferdinand de Saussure.
c.
Filsafat, juga berfungsi memberi
arah agar teori kebahasaan yang telah dikembangkan para ahli ilmu bahasa, yang
berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, memiliki
relevansi dan realitas kehidupan ummat manusia.
d.
Filsafat, termasuk juga filsafat
bahasa, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam
pengembangan teori-teori kebahasan menjadi ilmu bahasa (linguistic) atau ilmu
sastra. Suatu teori kebahasaan yang dikembangkan oleh suatu aliran filsafat
tertentu, akan menghasilkan forma aliran ilmu bahasa tertentu pula. Hal ini
akan sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu kebahasaan secara berkelanjutan.
C.
MERABA PIKIRAN FILSAFAT
Bahasa biasa secara akdemik dikaji oleh
linguistic, fiologi dan antropologi dengan fokus perhatian masing-masing yang berbeda.
Tugas filsafat bahasa adalah antara lain menjelaskan hakikat ‘’mengetahui’’
bahasa dan menjelaskan berbagai metode dan konsep demi suksesnya penguasaan
bhasa. Mengapa ada filsafat bahasa, bukankah sudah ada linguistic yang
mempelajari bahasa secara ilmiah. Dua cabang linguistik, yaitu fonologi sudah
jelas mempelajari bunyi, sintaksis mempelajari struktur gramatika bahasa dan
kajiannya relative mantap. Chomsky dengan tegas membedakan sintaksi dari
semantik. Dia mengajukan tesis autonomous
syntax,bahwasanya sintaksis mesti dipelajari secara terpisah dari semantik.
Sementara itu, dalam semantik (ilmu makna) banyak ditemukan persoalan yang
sulit dipecahkan. Disinilah filsafat mesti tampil membantu linguistic yang mati
langkah. Filsafat bahasa hampir mutlak berurusan dengan makna sedikit dengan
pola kalimat, dan tidak mengutak-atik bunyi bahasa. Pentingnya mempelajari
(filsafat) bahasa karena bahasa memiliki keterbatasan. Seorang filsuf pasti
memiliki pemikiran jauh lebih luas dari apa yang dikatakannnya lewat bahasa.
Seringkali tidak mudah bagi kita untuk meraba artinya. Memang berfilsafat
adalah berpikir radikal, yakni sampai keakar-akarnya. Sebagai suatu tulisan,
filsafat bersifat tekstual. Satuan maknanya bukan kata maupun kalimat, tetapi
kumpulan semuanya sebagai teks yang maknanya ditentukan oleh keterkaitannya
dengan teks-teks lainnya. Filsafat pun tampil selalu ambisius untuk memayungi
persoalan seluas mungkin. Agar tampil singkat tapi menjangkau banyak hal, maka
diperlukan metafora. Ada beberapa makna ungkapan dari para filsuf terkenal para
pentolan eksistensialisme berikut ini.
1. Jean-Paul Sartre (1905-1980)
‘’Existentialism is not so atheistic that it
wears it self out showing that Goddoes not exist.Rather, it declares that even
if God did exist, that would change nothing.’’ (Eksistensialisme itu
tidaklah sedemikian atheistic sehingga mengarahkan segala-galanya untuk
menunjukkan bahwa Tuhan tidak ada. Namun, eksistensialisme menyatakan bahwa,
meskipun Tuhan tidak ada, tidak aka nada yang berubah karenanya).
‘’Man is nothing else but his plan; he exists only to the
extent that he fulfils himself; he is therefore nothing else that the ensemble
of his acts, nothing else than his life. (‘’
manusia tiada lain adalah rencananya sendiri; ia mengada hanya sejauh ia
memenuhi dirinya sendiri; oleh karenanya, ia tiada lain adalah kumpulan
tindakannya, tiada lain ialah hidupnya sendiri).
‘’...
I am responsible for myself and for everyone else. I am creating a certain
image of man of my own choosing. In choosing myself, I choose man. ‘’(... saya
bertanggungjawab baik diri sendiri maupun bagi setiap orang lain. Saya
menciptakan gambaran tertentu tentang manusia atas dasar pilihan saya sendiri.
Dalam memilih bagi diri sendiri, saya memilih bagi manusia).
‘’...
the man who involves himself and who realizes that he is not only the person he
chooses to be, but also a lawmaker who is, at the same time, choosing all
mankind as well as himself, cannot help escape the feeling of his total and
deep responsibility.’’ (... manusia yang melibatkan diri dan menyadari bukan
saja sebagai pribadi yang diinginkan pilihannya, melainkan juga seorang pembuat
hokum yang sekaligus memilih bagi seluruh kemanusiaan dan bagi dirinya sendiri,
mustahil akan bias melepaskan rasa tanggungjawab yang dalam dan menyeluruh.’’
‘’...
man is a totality, not a collection.
Consequently he express himself as a whole in even his most insignificant and
is most superficial behaviour. In other words there is not revealing.’’(...
manusia adalah suatu totalitas, bukan suatu koleksi. Konsekuensinya manusia
menyatakan diri sebagai keseluruhan, bahkan dalaam tingkah lakunya yang tak
berarti atau dangkal sekalipun. Dengan kata lain, tak ada suatu selera, gaya,
atau tindakan manusia yang merupakan ungkapan.’’
2.
Soren
Aabye Kierkegaard (1813-1855)
‘’I felt the stillness of death grew around
me when I saw in my father, an unhappy man who was to outlive us all, a cross
on the tomb of all his hopes. There must be a guilt upon the whole family, the
punishment of God must be on it; it was disappear, wiped out by the powerful
hand of God... ‘’(Aku merasakan kesepian, maut tumbuh di sekitar diriku
bilamana aku menyaksikan ayahku, seorang yang tak berbahagia dan akan hidup
lebih lama dari kami semua, ibarat salib di atas nisan segala harapannya.
Niscaya suatu kesalahan telah menjadi tanggungan seluruh keluarga, hukuman
Tuhan pasti telah menjadi tanggungan seluruh keluarga, hukuman Tuhan pasti
telah dijatuhkan kepadanya; rupanya keluarga kami harus musnah, dihapus dari
muka bumi oleh tangan Tuhan yang perkasa.)
‘’....
Christ came through locked doors’’(Kristus
tiba lewat pintu-pintu yang terkunci)
3.
Friedrich
Wilhelm Nietzche (1844-1900)
‘’A high civilization is a pyramid; it can
stand only upon a broadbase; its prerequisite is a strongly and soundly
consolidated mediocrity’’(peradaban yang tinggi adalah ibarat piramida : ia hanya bias bertahan atas suatu landasan
yang luas; prasyarat ialah hal-hal tanggung yang dikonsolidasikan secara
tangguh dan ampuh.)
‘’....will clash in a gigantic war for the
markets of the world.’’(...akan bentrokan dalam suatu perang dahsyat demi
memperebutkan pasaran-pasaran dunia.)
‘’ Could it be possible ?
The old saint in the forest has not yet heard anything of this, that God is
dead!’’ (Mungkinkah demikian? Orang alim di hutan
tadi belum mendengar berita bahwa Tuhan sudah mati!)
‘’What is good ? ‘’you
ask.’’ To be brave is a good.’’ (Apa yang baik?’’ kau
bertanya. Berani itulah yang baik.’’)
‘’One repays a teacher badly
if one always remains nothing but a pupil.’’
(Tak sempurnalah seseorang membalas jasa gurunya, bilamana ia terus-menerus
bertahan sebagai muridnya saja.)
4.
Nicholas
Alexandrovitch Berdyaev (1874-1948)
‘’There is a spiritual man, and there is a
natural man, and yet the same individual is both spiritual and natural.’’
(Di satu pihak manusia adalah spiritual, sedangkan di lain pihak ia adalah
alamiah, maka dari itu individu itu
sekaligus bersifat spiritual dan alamiah.)
‘’...
the final goals of man’s life are not
social, not spiritual,’’(..tujuan final hidup manusia bukanlah social
sifatnya, melainkan spiritual.)
‘’it is man that makes history,...and that it
is to be supposed that he makes history for his own sake.’’(...adalah
manusia yang membuat sejarah,...dan ini seharusnya dianggap bahwa manusia
membuat sejarah untuk kepentingannnya sendiri.)
5.
Karl
Jaspers (1910-1969)
‘’What
is essential in the concrete decisions of personal fate remains hidden,’’(Apa
yang esensial dalam keputusan konkret yang menyangkut nasib pribadi tetap akan
tersembunyi.)
‘’All
being must be objectified for us in such forms, it becomes phenomenon for us,
it is for us as we know it, and not as it is in itself. Being is neither the
object that confronts us,... nor is it subject.’’ (Segala sesuatu yang ada
harus kita objektifikasikan berupa bentuk-bentuk, kita jadikan fenomena bagi
kita, adanya sebagaimana kita ketahui, dan tidak sebagaimana adanya pada
sendirinya. Apa yang ada itu bukan objek dihadapan kita,.. bukan juga subjek).
‘’The
God of faith is the distant God, the hidden God, the indemonstrable God. Hence
I must recognize not only that I do not know God but even that I do not know
whether I believe. (Tuhan yang diimani adalah Tuhan yang jauh. Tuhan yang
tersembunyi, Tuhan yang tak bias diperagakan. Oleh karena itu, saya harus
mengakui bahwa sebenarnya saya tak tahu akan Tuhan, bahkan tak tahu apakah saya
percaya (terhadap-Nya).
‘’The
more authentically free man is, the greater his certainly of God. When I am
authentically free, I am certain that I am not free through myself.’’(makin
sejati kebebasan seseorang, makin kuat kepastiannya tentang tuhan. Kalau saya
bersungguh-sungguh bebas, saya menjadi pasti bahwa saya tidak bebas karena saya
sendiri.)
‘’Life
in nature must be deepend, not withered, by what technology can do.’’ (Hidup
dalam ala mini harus diperdalam, bukan diberantakan, oleh apa yang diperbuat oleh teknologi.)
‘’To
be a man is to become a man.’’(Ada sebagai manusia adalah menjadi manusia.)
Untuk
mempertajam pemahaman anda ihwal ungkapan-ungkapan filosofis di atas. Kutipan di
atas merujuk pada panduan berikut ini.
1. Menurut
Derrida tulisan itu adalah yang pertama dan bukannya bahasa lisan.
2. Filsafat
itu bersifat ambisius. Apakah ayat-ayat filosofis di atas juga ambisius.
3. Filsafat
mereduksi segala persoalan kedalam suatu sistem metafora.
4. Ungkapan
linguistik bias dimengerti bila pada dirinya sendiri tidak ada paradox.
5. Tiap
ungkapan bahasa dapat dianggap sebagai tindakan politis untuk mendominasi
tindakan bahasa yang lainnya.
6. Menurut
Phoenix penguasaan bahasa bergantung pada empat kata kunci: penggunaan, simbol, makna, dan komunikasi. Bagaimana
penguasaaan bahassa para filssuf lewat kata-katanya.
7. Bagaimana
pendapat anda ihwal retorika kutipan di atas? Secara fonologis, morfologis, dan
sintaksis.
8. Bagi
segelintir pembaca, Kutipan di atas bias dianggap kurang komunikatif atau
membingungkan. Maengapa Demikian ?
9. Dapatkah
anda bandingkan proses kreatif sebuah puisi dengan proses kreatif ayat-ayat
filosofis seperti di atas?
10. Bagaimanaka
memaknai ayat-ayat filosofis seperti di atas agar dipahami dan bermanfaat bagi
masyarakat luas?
D.
MENGUASAI BAHASA
Dalam pemakaian sehari-hari, menguasai bahasa
sering diartikan sebagai mampu berbicara dalam bahasa itu. Secara lebih serius
ini diartikan sebagai kemampuan menggunakan simbol secara bermakna untuk
berkomunikasi. Jadi, dalam kontekss ini penguassaan bahasa bergantung pada
empat kata kunci: penggunaan, simbol, makna, dan komunikasi(Phenix:19640.
Berikut adalah rincian keempat unsur tersebut.
1. Indikator
penguasaan bahasa adalah penggunaannya dalam bicara dan menulis. Bila seseorang
fasih melafalkan kosakata dan menyebutkan aturan tata bahasa, tetapi ia tidak
bias menyusun kata-kata dalam wacana lisan dan tulis dalam bahasa itu, maka ia
tidak menguasai bahasa itu. Bahasa adalah perilaku manusia, Jadi, pengajaran
bahassa sesungguhnya ‘’mengubah’’ perilaku manusia. Jadi dalam belajar bahasa
perlu diciptakan suasana yang memaksa siswa berbicara dan menulis dalam bahasa
itu.
2. Nurani
terdalam yang ada pada manusia adalah keinginan dirinya diakui dan dimengerti
oleh anggota masyarakat lain lewat komunikasi dengan bahasa masyarakat itu.
Sebuah peribahasa Prancis mengatakan bahwa ‘’Mengerti berarti memaafkan
segaalanya.’’ Bahasalah yang mengikat kuat dan mempertahankan maintance
berfungsi memperkokoh suatu masyarakat. Jadi, cara yang paling baik mempelajari
bahasa adalah dengan membiarkan siswa larut dalam komunikasi dengan bahasa
dalam masyarakat penuturnya (speech community).
3. Perilaku berbahasa (language behaviour) dan
masyarakat ujar (speech community)
adalah kulit terluar dari bahasa. Bagian terdalamnya adalah makna. Salah satu
ciri kehebatan manusia adalah potenssi kodrati (innate capacity) untuk
mengalami dan memaknai makna itu. Ujaran bukanlah berondongan bunyi ujaran
sepertimetraliur tetaapi kilatan-kilatan makna yang mesti ditangkap. Jadi,
kemampuan menangkap makna saat mendengarkan dan membaca, dan kemampuan membuat
makna saat berbicara dan menulis. Belajar bahassa bukan meniru ujaran seperti
burung beo. Belajar bahasa adalah belajar memaknai melalui refleksi.
4. Makna-isi
bahasa itu ditampilkan atau direpresentasi oleh simbol ekspresi yang juga kulit
luar dari bahasa. Simbol ini bersifat fisikal yakni terdengar atau tertulis
sebagai representasi signifikansi intelektual. Simbol-simbol itu berwujud sebagai
kosakata(vocabulary), sementara itu bagaimana kosakata digabung dengan kosakata
lainnya diatur oleh struktur bahasa. Simbol-simbol itu adalah abstraksi dari
objek yang dipikirkan. Menguassai bahassa dengan demikian adalah menguasai
struktur simbol yang karena memiliki struktur, maka kemunculannya dapat
diprediksi. Daya prediktif inilah yang membekali manusia untuk dapat
merencanakan masa depan. Berpikir adalah mekanisme kognitif yang menghasilkan
pengetahuan. Simbolisasi makna lewat struktur itu tidak alamiah tetapi
dikonstruksi oleh budaya. Konstruk budaya(cultural construct) ini terbukti
dengan adanya perbedaan struktur internal linguistik antara bahasa dalam
mengekspresikan makna.
E.
Teori
bahasa dan metode Ilmiah
Sudah dibahas bahwa manusia memaknai alam semesta dengan
kemampuan bahasa. Eriksom seperti di kutip Hoover ( 1980 ) membedakan tiga
jenis konsep : factuality, reality, dan actuality.
1. Fakta, realita dan aktualita
Faktuality, atau fakta adalah konsep yang paling akrab
berkait dengan kegiatan dan metedologi saintifik, yaitu semesta fakta-fakta,
data dan tekhnik-tekhnik yang dapat di verifikasi dengan metode observasi.
Fakta jangan dikacaukan dengan kebenaran, sebab benar salah bukan urusan
epistimologi. Tugas ilmu adalah mencari metode secanggih mungkin agar mampu
merevisi, memodifikasi, dan membatalkan (falsifikasi) fakta- fakta dan
membatalkan teori yang sudah diverivikasi oleh alat yang belum canggih, masih
kasar, atau kurang sensitif untuk menangkap gejala- gejala yang belum
termaknai. Reality atau realita adalah urutan kedua setelah fakta dalam
memahami hubungan manusia dengan semesta ini. Realitas kurang konkret dibanding
fakta, tetapi lebih sederhana bagi intuisi kita. Ia adalah perspektif kita
terhadap sebuah fakta. Apa pun canggihnya metode yang ditempuh, tidak mungkin
bagi kita untuk memotret fakta secara utuh. Kita meneliti sesuatu didorong
motivasi yang berbeda sesuai dengan minat kitawajar bila sebuah objek diteliti
oleh beberapa peneliti, karena masing- masing punya minat yang berbeda. Jaddi
metodologi yang ditempuh sesungguhnya upaya untuk menggali bukti- bukti untuk
membentuk pandangan kita ihwal realitas. Membaca asil penelitian orang
sesungguhnya bukan sekadar membaca data, tetapi membaca perspektif peneliti
ihwal realitas sebagaimana tercermin lewat data. Actuality atau aktualita
adalah pengetahuan yang diperoleh lewat tindakan. Ia lebih membantu kita
bagaimana kita bertindak atas atas apa yang kita ketahui. Manusia katanya lebih
cenderung berorientasi pada akssi dari refleksi. Ilmuan sosial yang terbaik
adalah yang mereka yang basah kuyup karena muncul-tenggelam dalam fenomena
sosial yang sedang ditelitinya. Ketika kita berbicara bahasa sebagai objek
kajian linguistik secara ilmiah, sepatutnya anda bertanya apakah Anda merujuk
pada fakta, realita, atau aktualitas?
2. Peran teori
Yang dimaksud dengan metode saintifik lazimnya merujuk
pada langkah- langkah sistematik sebagai berikut:
a. Identifikasi
variabel yang diteliti
b. Pengajuan
hipotesis yang menghubungkan satu variabel dengan variabel lain atau situasi
lain.
c. Mengetes
realitas, yaakni dengan mengukur hubungan hipotesis dengan hasil yang
diperoleh.
d. Melakukan
evaluasi dimana hubungan yang telah terukur itu dibandingkan dengan hipotesis
awal, lalu dimunculkan sebuah generasi.
e. Mengajukan
sran ihwal makna ( signifikansi) teoritis dari temuan, faktor- faktor yang
terlibat dengan pengetesan yang mungkin
menyebabkan distorsi temuan, dan sejumlah hipotesis lain yang berkembang.
Langkah- langkah di atas itu gambaran
pendekatan konvesional dalam melakukan penelitian. Hal ini tidak berlaku bagi
pendekatan naturalistik karena berangkat dari asumsi filosofis yang berbeda.
Sains sering disebut tidak lebih dari sekedar reality testing, yakni mengetes
realitas. Semua orang terbiasa dengan realitas, dan para ilmuwan memperkenalkan
teori untuk memahami realitas ini. Teori adalah seperangkat proposisi yang
saling terkait yang menerangkan mengapa kejadian begitu adanya. Teori ada
berserakan dimana- mana, hanya saja tidak terlihat tanpa kacamata metodologi ilmiaa,
dari hal kecil seperti teori relativitas dari Esntein teori- teori besar adalah
yang berkaitan dengan pertanyaan sekitar agamaa dan filosofis, ihwal asal mula
keberadaan alam semesta, sejarah spesies, tujuan hidup, norma perilaku yang
mengarahkan kepada kebijakan dan mungkin kebahagian. Bagi ilmu- ilmu sosial
teori lazim terlihat dari perspektif pragmatisme, sebuah teori disebut baik
jika dilihat dari kegunaannya untuk menjelaskan fenomena yang diamati. Tujuan
ilmu pengetahuan adalah menghasilkan teori untuk menjelaskan fenomena yang
diobservasi. Teori bukanlah batu karang yang tak terdobrak kuasa ombak. Teori
adalah kreasi manusia untuk menjelaskan pemahaman ihwal fenomena. Ada empat
fungsi teori sebagai berikut (Hoover 1980:39).
a.
Teori menyajikan pola- pola
untuk memaknai data.
b.
Teori menghubungka satu
studi dengan studi lainnya
c.
Teori menyajikan berbagai
kerangka yang memayungi konsep dan variabel untuk memperoleh makna yang
spesifik
d.
Teori memungkin kita
menginterprestasi makna yang besar dari temuan penelitian kita yang bermakna
kita mampu bagi orang lain.
3. Teori bahasa
Perluka teori? Ya, mutlak
perlu, karena pengetahuan dasar dan kemampuan kita untuk memahami alam semesta
ini terbatas. Menelititanpa teori bagai memancing tanpa kail. Kita meneliti
alam ini secuil- secuil saja. Jadi yang diperlukan adalah teori yang releven
dan sudah dirumuskan oleh peneliti terdahulu ihwal yang secuil itu. Jadi
bagaimana dengan teori bahasa? Sebagai teori, maka teori bahasa sama saja
dengan teori fenomena lain, katakanlah teori grafitasi bumi. Teori haruslah
empirik dan spekulatif. Teori bahasa layknya teori ihwal alam juga. Persepsi
kita terhadap teori bahwa bumi memiliki daya geavitasi seyogianya sama dengan
persepsi kita terhadap teori bahwa kalimat memiliki daya simbolik. Dalam
perbincangan sering kali kita harus membedakan theory dari folk theory atau folk opinion
, yakni pemahaman yang tidak kritis, tidak sistematis, tidak metodologis dan
sering diwariskan begitu saja dari generasi ke generasi. Dalam ilmu bahasa pun
ada dikenal folk linguistic, yakni deskripsi atau kepercayaaan orang awan ihwal
bahasa yang tidak berdasarkan penelitian. Pengetahuan berkembang bermula dari
folk theory yang dikritik habis- habisan sehingga menjadi teori saintifik.
Misalnya sering dikatakan bahwa bahasa Perancis adalah bahasa yang paling
romantis, bahasa inggris adalah adalah bahasa yang cocok untuk membahas ilmu
pengetahuan, dan bahasa arab adalah bahasa pertama yang muncul di muka bumi dan
merupakan bahasanya Nabi adam. Percayakah anda?
a.
Teori
Chomsky
Bagi Chomsky adalah cermin minda. Dengan
studi bahasa yang mendetil kita mungkin dapat mengungkap bagimana minda manusia
memproduksi dan mengeloh bahasa. Sutudi bahasa bertujuan mengembangkan (1)
teori bahasa, (2) teori pemerolehan bahasa, secara logis, tugas (1) mendahului
tugas, (2). Teori bahasa yang memadai seyogianya mampu menjawab pertanyaan
berikut ini: apakah bahasa itu? Apa artinya bahwa seseorang mengetahui bahasa?
Apa ciri pembeda utama bahasa alamai dibandingkan dengan bahasa bahasa buatan
seperti yang digunakan dalam matematika dan media lainnya? Dengan mempelajari
secara serius bahasa Inggris atau bahasa apa saja ditemukan particular grammar
yang darinya dapat diabstraksi universal grammar. Berikut ini bebrapa ayat
teori grammar yang diajukan oleh Chomsky:
1)
Gramatika adalah sebua model
(deskripsi sistematik) dari segala kemampuan linguistik seorang penutur sejati
sebuah bahasa yeng memungkin dirinya berbicara dan memahami bahasanya dengan
fasih.
2)
Gramatika bahasa adalah
sebuah model dari kompetensi linguistik dari seorang penutur sejati yang fasih.
Kompetensi adalah pengetahuan seorang penutur dan pendengar sejati ihwal
bahasanya, sedangkan performansi adalah pemakaian bahasa secara aktual (actual
use) dalam suasana konkret.
3)
Linguistik bagi Chomsky
adalah terutama berkaitan dengan kompetensi yang terdiri atas dua jenis
kompetensi pragmatik adan kompetensi gramatikal. Yang disebut pertama ini
berurusan dengan informasi non-linguistik seperti pengetahuan latar kepercayaan
perorangan dalam menginterprestai kalimat.
4)
Kompetensi gramatikal
memayungi tiga kompetensi yaitu kompetensi sintaktik, semantik, dan fonologis.
Grammar tata bahasa terdiri atas komponen yang saling berkaitan, yaitu komponen
sintaksis, semantik, dan fonologis.
5)
Dengan intuisi yang
dimilikinya, seorang penutur sejati dapat memberikan penilaian (judgment)
apakah sebuah ujaran itu gramatikal dalam bahasanya.
6)
Teori linguistik terutama
berurusan dengan bahasa penutur pendengar yang ideal dalam sebuah masyarakat
ujaran betul- betul homogen.Kreativitas berbahasa menunjukkan bahwa bahasaa
tidak sekadar pembelajaran daftar kalimat yang dihasilkaan penutur sejati dan
mengulanginya seperti burung beo. Kebaruan kalimat yang dibuat itu menunjukkan
perlawanan teori aliran behaviorisme bahwa belajar bahasa adalah pemerolehan
seperangkat kibiasaan (linguistic habits).
Ada tiga urutan atau tingkat kehebatan teori bahasa,
yaitu yang memnuhi observational
adequacy, descriptive adequacy, dan explanatory adequacy. Masing- masing
itu dijelaskan kriterianya dalam tiga kutipan sebagai berikut ( lihat Radford
1981:25-26).
1)
A
grammar of a languange is abservationally adequate if it correctly predicts
which sentences are (and are not syntactically), semantically and
phonologically well-fermed in the languange.
2)
A
grammar of a languange is decriptively adequate if it correctly predicts which
sentence are (and are not syntactically, semantically and phonologically
well-formed in the language, and also correctly describes the syntactic,
semantic and phonological structure of the sentences in the language in such a
way as provide a principled account of the native speaker’s intuition about
this structure.
3)
A
grammar attains explanatory adequacy just in case it correctly predicts which
sentences are and are not well- formed in the language, correctly describes
their structure, and also does so in terms of a highly restricted set of
optimally simple, universal, maximally general principles which represent
psychologically plausible, and are ‘ learnable’ by the child in a limited
period of time, and given access to limited data.
Jadi teori yang paling tinggi derajatnya adalah yang
memenuhi explanatory adequacy. Untuk
itu gramatika haruslah nyata secara psikologis (psychologically real); juga dibatasi secara maksimal (maximally
constrained). Berikut adalah penjelasan ihwal kutipan di atas
1) Persyaratan
observational aadequacy merupakan persyaratan yang paling mudah dipenuhi, yakni
asalkan dapat menyatakan secara benar kalimat- kalimat yang apaik dalam tiga
tataran fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Misalnya bahwa kalimat
berikut ini tidak (well-formed), dan
penutur sejati bahasa Inggris- juga Anda yang menguasainya- dengan mudah dapat
menjelaskan mengapa demikian.
a)
John’s
a living dead man
b)
My
wife is not my wife
c)
This
is a five-sided hexagon
d)
Colorless
green ideas sleep furiously
e)
I
eat much cereal for breakfast
2) Persyaratan
descriptive adequacy selain memenuhi
persyaratan observational adequacy di atas, juga mampu mengungkapkan struktur
fonologis, morfologis, sintaktik, dan semantik suatu kalimat sedemikian rupa
sehingga gambaran itu mencerminkan intuisi penutur sejati. Misalnya kemampuan
menjelaskan fenomenan bahasa dalam kalimat The
shooting of the hunter is terrible. Penutur sejati memiliki intuisi bahwa
yang mengerikan itu bisa penembakan oleh pemburu atau penembakan kepada pemburu
3) Persyaratan
explanatory adequacy selain memenuhi
persyaratan descriptive adequacy dan persyaratan observational adequacy harus
sahih secara universal dan terkendala secara maksimal (maximally constrained)
sehingga mampu menjawab pertanyaa: (a) mengapa aturan tatabahasa natural
memiliki atauran demikian, dan (b) apa hakikat suatu bahasa natural yang
membedakannya dari bahasa lain seperti bahasa binatang?
Tampak dari batasan di atas bahwa problem
dalam penguassaan bahassa sesungguhnya problem menguasai makna. Karena bahasa
sebagai alat berpikir manusia, maka problemnya adalah juga problem minda(mind).
Diharapkan bahwa studi dan teori bahasa akan menjelaskan hakikat minda. Dan
demikian juga sebaliknya. Teori tentang bahasa adalah abstraksi para ahli
bahasa sebagai hasil pengamatan terhaadap gejala bahasa. Dengan jalan pemikiran
ini, Ilmu bahasa tunduk kepada sejumlah asumsi tentang objek empiris (bahasa)
sebagai berikut.
a. Keragaman
Beberapa fenomena memiliki keragaman dalam
sifat, struktur, bentuk dan sebagainya. Keragaman ini menghasilkan klasifikasi
yang sangat mendasar bagi ilmu pengetahuan untuk melahirkan taksonomi. Dari
taksonomi para ilmuwan membanding-bandingkan objek studi sehingga muncul
komparasi. Pendekatan kuantitatif pun tidak mungkin tanpa taksonomi yang baik.
Dan dari komparassi dan taksonomi para ilmuwan dapat melakukan prediksi.
Klarifikasi tradisional kelas kata kedalam nomina, pronominal, verba,
adjektiva, proposisi, konjungsi, dan interjeksi ditempuh berdasarkan keragaman
anggota-anggota yang masuk dalam masing-masing kelas kata itu. Demikian juga
konsep universal dalam teori linguistik adalah bukti kuatnya asumsi keragaman
ini, Ada dua jeniss universal dalam bahasa, yaitu universal absolute dan
universal relative dengan rincian sebagai berikut. Universal adalah ayat-ayat
universal yang tidak memiliki kekecualian. Universal relative adalah universal
tendencies, yakni kecenderungan universal, yakni memiliki kekecualian. Sebagai
contoh : bahasa menghindari center-embedding, karena memprosesnya jauh lebih
sulit ketimbang memproses left-peripheral relative clause atau right-peripheral
relative clause. Coba simaklah betapa sulitnya memproses kalimat ini: The man [that the boy [that the dog [ that
the cat [that the mouse hated]scratched]bit]kicked]ran away. Berikut adalah
beberapa contoh universal bahasa:
1. Urutan
kata : S, V, O: Dalam kalimat deklaratif dengan subjek objek nomina, urutan
yang dominan adalah hampir selalu pola S mendahului O.
2. Sintaksis
: Dalam kalimat-kalimat kondisional, klausa kondisional mendahului konklusi
sebaagai urutan normal dalam hampir segala bahasa.
3. Morfologi
: Bila bahasa memiliki infleksi, bahasa itu selau memiliki derivasi.
b. Kelestarian
Relatif
‘’Segala
sesuatu berubah kecuali Dzat pencipta.’’ Demikianlah, fenomena alam termasuk
bahasa berubah-ubah dengan tingkatan yang berbeda. Benda-benda angkasa berubah
atau berevolusi jauh lebih lama daripada perubahan es menjadi air dalam gelas
minuman. Ilmu pengetahuan mencari hukum- hukum dari objek yang relatif lestari
sehingga dapat dijadikan pegangan. Sulitlah keilmuan akan tegak bila objek
studinya berubah setiap saat. Struktur bahasa relatif lestari sehingga kita
dapat mempelajarinya. sintaksis lebih lestari daripada kosakata. Struktur lebih
dapat diprediksi daripada makna. Karena itu sintaksis lebih objektif daripada
semantik. Setiap bahasa mengenal fenomena bahasa gaul atau slang, yang sangat
musiman dan berubah dari waktu ke waktu, dari pengguna ke pengguna. Berbeda
denga fenomena universal bahsa seprti di sebut di atas.bahasa berubah dengan
perubahan yang bertingkat, karena itu dalam ilmu bahasa di kenal sejumlah
fenomena seperti Lexical change,semantic change, dan language reconstruction.
c.
Sebab
– akibat
Dalam
Al-Quran di firmankan, “ sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang
terdapat pada ( keadaan ) sesuatu kaum (
masyarakat ), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri ( sikap
mental ) mereka.” (QS.Al-Raad: 11). Diterminisme mengatakan bahwa sebuah
fenomena bukanlah kejadian asal jdadi dengan sendirinya. Ada keteraturan
sehingga ada keterkaitan sababiyah atau sebab akibat, X menyebabkan Y. Walau
begitu, dalam ilmu pengetahuan tidak tidak harus selalu ditemukan X akan selalu
menyebabkan Y. Bisa saja dikatakan X lazimnya ( memiliki peluang besar
mengakibatkan ) munculnya Y. Contoh yang paling sederhana adalah perubahan kata
kerja finit ( finite verb ) dalam jumlah persona disebabkan oleh karakteristik
yang melekat pada subjek. Sebab – akibat ini mengokohkann hukum subject-verb
agreement.
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
1. Makna
bahasa biasa (ordinary language) adalah bahasa sehari hari baik lisan maupun
tulis, yang tidak mencakup bahasa eksklusif seperti bahasa khusus untuk dunia
inteligen yang penuh sandi atau bahasa khusus untuk bidang profesi atau
spesialis tertentu.
2. Pentingnya
teori bahasa dan filsafat bahasa, yaitu sebagai sarana analisis dalam
memecahkan, memahami, dan menjelaskan konsep, problema, filsafat (bahasa
sebagai subjek). Bahasa sebagai objek material filsafat sehingga filsafat
bahasa membahas hakikat bahasa itu sendiri. (3) makna menguasai bahasa, yaitu
symbolik, empiris, estetik, synnoetics, etis, dan synoptic dan (4) dasar-dasar
teori bahasa, menurut Chomsky, gramatika, gramatika bahasa, linguistik,
kompetensi gramatikal, intuisi, linguistik, kreativitas bahasa, dan kehebatan
teori bahasa.
B.
SARAN
Diharapkan jika membuat makalah selanjutnya menggunakan referensi yang
lebih variatif.
DAFTAR
PUSTAKA
A.Chaedar
Alwasilah. 2010. Filsafat Bahasa dan
Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ambary, Abdullah. 1986. Intisari Tata
Bahasa Indonesia. Bandung: Djatnika.
Chomsky,
Noam. 1977. Language and
Responsibilities. New York: Panthem Books.
Comrie, B. 1989. Language Universals and Linguistic Typology:
Syntax and Morphology. 2nd edition. Oxford: Basil Blackwell.
Dardjowidjojo,
Soejono. 2003. “ Menuju ke Penelitian yang Ekplanatori.” Dalam Soekamto, ed.
Rampai Bahasa, Pendidikan, dan Budaya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
330-339.
Devit,
Michael & Kim Sterelny. 1987. Language
& Reality: an introduction to the Philosophy of Language. Cambridge:
The MIT Press.
Hasan, Fuad. 1973. Berkenalan dengan Eksistensialisme.
Jakarta: Pustaka Jaya.
Hoover,
Kenneth R. 1980. The Elements of social
Scientific Thinking. 2nd edition. New York: St. Martin’s Press.
Kaelan,
M.S. 1998. Filsafat Bahasa: Masalag dan
Perkembangannya. Yogyakarta: Paradigma.
Pangabean,
Maruli. 1981. Bahasa Pengaruh dan Peranannya. Jakarta: Gramedia.
Phenix,
Philip H. 1964. Realms Of Meaning: A
Philosophy of the Curriculum for General Education. California: Ventura.
Radford,
Anndrew. 1981. Transformational Syntax: A
student’s guide to Chomsky’s Extended Standard Theory. Cambridge: Cambridge
University Press.
S.
Suriasumantri. Jujun.2007. Filsafat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer).Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Santoso, Kusno
Budi.1990.Problematika Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.
Slametmuljana.
Prof. Dr. 1982. Asal usul Bahasa dan Bahasa Nusantara Jakarta: Balai Pustaka.
Sugiarto,
Bambang I. 1996. Postmoderisme: Tantangan
bagi Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sugono,
Dendy. 2004. “ Perspektif Penelitian Linguistik di Indonesia.” Lingua:Jurnal
Bahasa dan Sastra. Volume 5, No 2, 182-190.
Surajiyo,Drs.2007.
Filasafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Suriasumantri,
Jujun S. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah
Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu. Jakarta: Yayasan obor Indonesia.
Wibowo,
Wahyu. 2001. Manajemen Bahasa. Jakarta: Gramedia. Ahmad Asep.2006. Filsafat
Bahasa. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.